CB, AMBON – Anggota Satgas Yonif 711/ Raksatama membantu mahasiswa STKIP Gotong royong Masohi yangbaru selesai praktek mengajar di SMP Negeri Lisabata menyeberangi Sungai Miyaka hal ini disampaikan Dansatgas Pamrahwan Yonif 711/Rks Letkol Inf Fanny Pantouw dalam rilis tertulisnya di Maluku Utara,sabt 23/2.
Diungkapkan Dansatgas, Miyaka merupakan sungai yang terletak di Kecamatan Pasania merupakan penghubung diantara Desa Galeh Galeh dengan DesA lisabata , ketika kembali mengajar beberapa Mahasiswa STKIP kesulitan menyeberangi Sungai Miyaka yang sedang meluap, Mereka langsung mendatangi Pos Satgas minta tolong agar membantu mereka menyeberang .
kata Fanny Sungai tersebut merupakan satu satunya akses dari negeri Lisabata menuju kota Masohi dan ketika sungai meluap atau banjir secara otomatis semua aktivitas warga Desa terputus , karena tidak ada jembatan ditambah kedalamandan permukaan sungai yang berpasir , kendaraan tidak bisa menerobos jika air meluap atau banjir.
pada juma’at 22/2 air sungai meluap tidak ada jembatan dan kendaraan pun tidak bisa dilalui secara otomatis jalur terputus , Termasuk beberapa warga juga mengalami kendala yang serupa dan minta bantuan Satgas untuk menyeberangkan kata Fanny . Menurut Fanny apa yang dilakukan oleh Mahasiswa STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan) gotong royong Masohi tersebut menunjukan bahwa antara Mahasiswa dan Anggotanya begitu Dekat., Ini mengindikasikan antara TNI dengan mahasiswa atau warga tidak ada jarak , manunggal satu sama lain bahu membahu dalam membantu mengatasi kesulitannya Tandas Fanny.
Kemudian Fanny juga menegaskan bahwa seluruh jajaranya telah bertekad untuk siap setiap saat membantu masyarakat dalam mengatasi kesulitan yang mereka hadapi. Kita mensiagakan 711 Quick Respons Team ,siapa pun yang mendapatkan kesulitan, jangan ragu, silahkan laporkan ,langsung, kita Respon oleh satuan terdekat Tegasnya
Sementara itu ,Danposatgas yang berada di Lisabata (Letda Inf Sudarmin menyampaikan bahwa untuk membantu para Mahasiswa dan warga menyeberang mereka lakukan dengan cara bergandengan satu sama lain, ketika itu kita terpanggil melihat mereka tidak bisa menyeberang sungai . Maka segera kita perintahkan anggota untuk terjun ke lOkasi Ungkap Sudarmin. Mahasiswa dan warga yang dewasa bergandengan tangan kemudian anak-anak digendong demikian juga barang-barang warga kita pikul, secara tehnik satu sama lain akan saling menguatkan ketika terjadi arus sehinggah tidak terseret Ujar Fanny
Ditambahkan lagi ,dalam menjalankan tugas di daerah penugasan ada sisi kemanusian dan kepudilian yang mesti dikedepankan. Apalagi mereka adalah generasi penerus bangsa yang nanti akan ikut memajukan perbatasan. Para mahasiswa dan anak-anak sekolah ini tak punya pilihan lain karena akses satu-satunya untuk berangkat dan kembali dari menuju Negeri Lisabata Sunga Miyajka. (A/Fadri)
