CB, SURABAYA – Adanya temuan audit LHP BPK RI Perwakilan Prov Jatim terdapat kemahalan harga di paket pekerjaan yang di adakan oleh dinas sosial provinsi jawa timur, terkait pengadaan kambing yang berindikasi terjadinya kemahalan harga sebesar Rp 274.950.000, dan hasilnya tdk memberikan manfaat yang optimal bagi penerima, diantaranya : 1. Bantuan Ekonomi Produktif (UEP) untuk pemberdayaan fakir miskin pada tahun 2017 kemarin, dwngan nilai pagu Rp 2.920.000.000. Sebelum menentukan HPS team survei sdh melakukan survei di pasar desa ngoro kabupaten jombang, dan pasar hewan Ngrame Mojokerto.
2.Pada saat pelelangan diumumkan tanggal 29 september 2017, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh penyedia yang mengikuti lelang tersebut harus menyediakan ketersediaan ternak dipenampungan ternak (Holding Ground)sebesar 30 persen dari keseluruhan ternak yang dibutuhkan, itu semua sudah dibuktikan dengan pembuktian kualifikasi oleh pokja ULP pada tanggal 10 – 13 Oktober 2017, dan lelang tersebut dimenangkan oleh CV.PP dengan nilai kontrak sebesar Rp 2.877.044.250,00 dengan SPK No.027/4173/107.3.06/2017 pada tanggal 19 Oktober 2017 , dan pekerjaan tersebut telah dinyatakan selesai 100 persen “Terang Unggul selaku sekretaris Dinsos provinsi jatim”.
Berdasarkan LHP BPK RI perwakilan provinsi jawa timur, dari pengadaan bantuan sosial hewan ternak kambing di Dinas sosial provinsi jawa timur tahun 2017 adanya kemahalan harga sebesar Rp 274.950.000,00 sebingga oleh PPK telah melakukan penyetoran ke kas daerah pada tanggal 23 Mei 2017.
Menanggapi tujuan pemberian bantuan sosial dalam rangka pemberdayaan maayarakat miskin tidak tercapai, tanggapanya sebagai berikut : untuk tercapainya tujuan bantuan, jenis bantuan yang diberikan baik ternak kambing maupun alat pertukangan sudah sesuI dengan usulan (proposal) masyarakat (KUBE) yang diusulkan melalui Dinas Sosial kabupaten/ kota. masyarakat (KUBE) memilih jenis bantuan tersebut karena sesuai dengan ketrampilan yang mereka kuasai.kurang optimal pencapaian tujuan bantuan sebanyak 37 persen ternak mati, karena penyakit kudis, kembung, namun sebagaian besar yang 63 persen hidup dan berkembang, bahkan sudah ada yang beranak, dan beberapa masyarakat menukarkan bantuanya dengan kambing yang lebih besar dan sehat, otomatis bisa menambah penghasilan atau sebagai sumber penghasilan meeka “Tambahnya. (Angga)
