Serah Terima Siswa Repatriasi Sabah Tahun 2019 Dilaksanakan Di SMKN1 Martapura

CB, Banjarmasin – Acara cerimonial penyerahan 50 siswa repatriasi dari Sabah-Malaysia untuk 8 SMK diwilayah Kalimantan Selatan dilaksanakan di SMKN1 Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan(Rabu, 01/8/2019).

Pada acara cerimonial tersebut dihadiri Rika Rismawati dari Direktorat Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus(PK/LK), Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel, HM Yusuf Effendi, M.Ap, Ketua MKKS SMK Provinsi Kalsel, Dwi Ayati, M.Pd, Ketua MKKS SMK Tanah Bumbu, Ribut Giyono, S.Pd, MM serta 8 Kepala SMK dari Provinsi Kalsel yang turut menerima siswa repatriasi. Selain itu juga hadir 5 orang pendamping siswa repatriasi dari Sabah Bridge: Agung, Aksar, Syafawi, Juliana, Sukmawati. Jumlah 8 SMK yang menerima siswa repatriasi tahun pelajaran 2019-2020 di wilayah Kalimantan Selatan adalah: 1.SMKN1 Martapura=12 orang

2. SMKN1 Murung Pudak=5 orang

3. SMKN1 Tanjung =4 orang

4. SMKN2 Marabahan=6 orang

5. SMKN1 Banjarbaru=4 orang

6. SMKN2 Simpang Empat=10 orang

7. SMK Kodeko =5 orang

8.SMK DDI Batulicin=4 orang Kadis pendidikan provinsi Kalsel pada kesempatan itu mengucapkan selamat datang ke provinsi kalsel kepada rombongan siswa repatriasi, HM Yusuf Effendi juga mengapresiasi kepada Ribut Giyono sebagai pelopor dari program repatriasi yang bertujuan mulia untuk meningkatkan sumber daya manusia. Senada itu juga dituturkan oleh Dwi Ayati, M.Pd bahwa Ribut Giyono sebagai pelopor program repatriasi tersebut dan SMKN2 Simpang merupakan SMKN yang pertama merekrut siswa repatriasi Sabah-Malaysia yang dimulai sejak tahun 2015.

Pak Ribut sebagai pelopor program ini, tuturnya. Menanggapi hal tersebut Ketua MKKS SMK Tanah Bumbu yang juga Kepala SMKN2 Simpang Empat, Ribut Giyono, S.Pd, MM pada kesempatan itu flash back kebelakang ketika di tahun 2013 dia bertemu dengan Konsulat Jenderal Pak Supeno Said di Sabah lalu tergagas program Indonesia memanggil, sehingga anak-anak TKI asal Indonesia yang mendapatkan perlakuan diskriminatif di Sabah Malaysia, mereka bisa kembali mengikuti pendidikan kejuruan menengah atas(SMK) di Indonesia, mengingat anak-anak TKI Indonesia yang lahir di Sabah sulit untuk mengenyam pendidikan SLTA disana.

SMKN2 Simpang Empat adalah SMK pelopor yang pertama kali menampung siswa repatriasi yaitu dimulai pada tahun 2015. Lanjutnya bahwa pada waktu itu SMKN2 Simpang Empat harus cari donatur intuk mendukung program tersebut. Akan tetapi setelah itu program repatriasi pun mendapat bantuan dari pemerintah Indonesia sehingga hingga sekarang sudah terdapat 8 SMK yang menerima para siswa repatriasi dari Sabah tersebut. Ribut Giyono mengharapkan program repatriasi ini akan berjalan terus berkesinambungan kedepannya. (Jhon)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *