CB, TULUNGAGUNG – Seperti biasa, setiap hari Jumat atau minggu kedua pada bulan Suro, yakni Pusaka Tombak Kyai Upas (Kyai Baru Klinthing, red) dilakukan prosesi jamasan. Pusaka berbentuk tombak panjang yang konon katanya berasal dari Kerajaan Mataram ini diyakini memiliki kekuatan daya magis yang luar biasa dan ada ikatan kuat dengan Tulungagung. Bahkan saat Jawa Timur, khususnya Surabaya genting diserang para belanda, pusaka tersebut pun dipinjam oleh Bung Tomo guna menumpas penjajah Belanda. Tak pelak, para penjajah belanda itu pun tertumpas dan banyak pula yang mati.
Disisi lain, masyarakat Tulungagung meyakini bahwa Pusaka Kyai Upas sangat bertuah sebagai tolak balak banjir serta mampu menjaga ketentraman bagi Kabupaten Tulungagung serta kota-kota yang pernah ditempati tombak tersebut. Dan, tumbak yang berada di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung ini, Jumat (04/09), berkisar pukul 09.00 telah dilaksanakan prosesi tradisi jamasan.
Dan, seperti biasa, prosesi jamasan dihadiri para petingi-petinggi yang ada di Kabupaten Tulungagung. Tak ketinggalan Forpimda, kepala OPD, lurah, warga kasepuhan Tulungagung, Paguyuban Permadani, tokoh agama dan keluarga besar Pringgokoesumo serta masyarakat sekitar pun hadir dalam prosesi jamasan pusaka tersebut.
Upaya tetap melestarikan peninggalan leluhur, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung Drs Bambang Ernawan S.Pd mengatakan, yakni kegiatan prosesi jamasan Tombak Kyai Upas ini adalah untuk keragaman budaya dan tentunya akan terus dilakukan hingga turun temurun.
“Mengembangkan nilai tradisi budaya serta melestarikan kekayaan budaya di Tulungagung itu penting. Sehingga, kita tetap harus melestarikannya dan itu adalah wujud hormat pada sejarah,” terang Bambang Ernawan kepada Cahaya Baru.
Sementara itu, Bupati Tulungagung Drs Maryoto Birowo MM mengingatkan, bahwa Tombak Pusaka Kyai Upas adalah milik pemerintah Kabupaten Tulungagung. Namun demikian, lanjut bupati, upacara siraman Pusaka Tombak Kyai Upas secara rutin diadakan bahkan secara turun temurun dirawat oleh keturunan Bupati Ngrowo. Pusaka ini Wajib dalam pemeliharaannya berdasarkan keputusan bersama dari keluarga Pringgokoesumo, yakni RM Moenoto Notokoesumo.
”Upacara jamasan Pusaka Tumbak Kyai Upas dilakukan setiap tahunnnya dan ini merupakan suatu budaya adat atau tradisi setiap bulan suro. Tujuannya, tidak lain adalah wujud rasa syukur kepada Alloh SWT atas perjalanan satu tahun ini. Alhamdulillah pula, Kabupaten Tulungagung masih diberi keamanan serta kenyamanan,” ujar bupati saat diwawancarai para awak media, usai prosesi jamasan Pusaka Tombak Kyai Upas.(rul)
