Gunaryo: Yang Jelas, Inventaris Kekayaan Belum Ada
CB,TULUNGAGUNG – Pemilihan kepengurusan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)
Kabupaten Tulungagung, tinggal lima hari lagi. Organisasi guru terbesar juga solid serta hampir semua guru dan dosen bergabung dalam organisasi tersebut sangatlah mulia. Namun jelang pemilihan kepengurusan, PGRI Tulungagung ini ‘masih memiliki masalah’ yang belum terudari.
Pembelian aset tanah baru-baru ini misalnya, tidak ada transparansi pada para anggotanya dan malah terkesan ditutup-tutupi. Bahkan, saat dipertanyakan soal penjualan mobil, para pengurus pun berdalih, yakni penjualan aset mobil tersebut dipergunakan menutup hutang. Padahal, terkait penjualan mapun pembelian sesuai AD ART, harusnya melalui Konfrensi Kerja Kabupaten (Konkerkab) namun itu tidak dilakukannya.
“Saat kami tanyakan soal mobil, ternyata mobil itu sudah dijual dan katanya untuk menutup hutang. Dan saat kami pertanyakan soal keuangan pembangunan gedung sekretariat beliaunya (ketua, red) katanya belum ada waktu untuk ditemui dan rencananya memberikan waktu pada Rabu (hari ini, red),” kata Rianto, Ketua Cabang Boyolangu ini kepada Cahaya Baru.
Untuk tatip, lanjut Rianto, beberapa hari lalu telah diunggah oleh sekretaris. Namun, menurutnya, ada beberapa poin yang perlu ia cermati serta perlu dibahas dengan rekan-rekannya itu. ”Kebetulan teman-teman ngumpul disini juga mau membahas tatip itu mas,”ujarnya.
Masih kata Riadi, kegetolannya soal reorganisasi didalam tubuh PGRI itu, dirinya tidak ada muatan kepentingan pribadi maupun kelompok. Dan, yang ia inginkan hanyalah sebuah perubahan di PGRI Tulungagung kedepannya bisa lebih baik lagi serta adanya transparansi. ”Sepuluh bulan lagi saya sudah pensiun. Jadi, saya
tidak mempunyai kepentingan apa-apa disini,”katanya. Namun, imbuhnya, dirinya berharap PGRI Tulungagung kedepan bisa menjaga komitmen serta adanya perubahan yang lebih baik lagi. “Semoga pengurus yang baru nanti bisa komitmen dan mampu melakukan berubahan yang lebih baik lagi,”katanya.
Hal sama juga disampaikan Drs Gunaryo, Ketua Cabang PGRI Kauman, yakni ketidaktransparannya para pengurus PGRI Tulungagung itu membuat para anggota banyak yang ogah memilih kembali Sugiarno (incumbent, red) sebagai Ketua PGRI Tulungagung. Karena, menurutnya, dalam kepengurusan yang lama itu dianggapnya tidak bisa membuat perubahan di organisasi menjadi lebih baik, namun malah justru sebaliknya.
“Pada waktu pemeriksaan keuangan, yang jelas inventaris kekayaan belum ada.
Seharusnya, karena PGRI itu organisasi besar ya harus dikelola adminitrasinya dengan bagus dan harus transparan juga,” kata Gunaryo kepada Cahaya Baru, kemarin.
Sementara itu, hasil investigasi Cahaya Baru di sejumlah guru-guru nyaris sama yang disampaikan, yakni ‘harus’ adanya reorganisasi di dalam kepengurusan PGRI Tulungagung. Bahkan, berkisar sepuluh ribu anggota PGRI Tulungagung itu, yakni 90 persen anggota PGRI yang terdiri dari guru TK, SD, SMP dan SMA/SMK sepekat inginkan perubahan didalam kepengurusan PGRI Tulungagung walau ada yang mengarahkan agar memilih kembali incumbent. “Yang jelas, kami para guru sepakat inginkan reorganisasi,” kata sejumlah guru yang berhasil ditemui Cahaya Baru, belum lama ini.(rul)
