Formula Metabolisme (Sunnatulloh) Alami Bagi Predator, Preman Dan Pelacur Politik

CB, Gresik – Berpendidikan sekolah umum yang jauh dari memadai, sebagaimana beground dasar bagi maenstrem akademisi dalam mengukur tingkat kemampuan berinteraksi intelektual, apalagi berargumentasi. Berkat dari kesalahan cetak/tulis oleh Dispenduk Capil yang menunjukkan identitas pendidikan dari penulis, menjadi standar dan wajar bila terdapat dalam penyampaian maksud komunikasi verbal maupun tulisan yang kurang muda dimengerti.

Atas dorongan daya yang bersumber dari lubuk hati yang terdalam, 8-9 tahun berjalan dalam berperan profesi sebagai jurnalis dan/atau wartawan honorer. Kepada publik, menjadi referensi utama bagi penulis dalam menyampaikan tentang segala hal ihwal yang telah terjadi dalam waktu belakangan ini, khususnya disaat musim pandemi.

Niat hati yang tulus, sebuah keinginan yang telah menjadi cita-cita terpendam semenjak lama untuk dapat menjadi seorang jurnalis dan/atau wartawan, dengan harapan agar lebih mendapatkan kepercayaan dari masyarakat guna menyampaikan apapun tentang hal kebenaran, terutama kebenaran yang bersumber dari prinsip-prinsip Agama dan prinsip-prinsip hidup Ber-Agama.

Nurani menjadi prinsip dasar pada tiap karya tulis jurnalistik, dengan berdasarkan UUD 45′ (Sunnah) Pasal 28, terjawab sudah cita-cita dari penulis melalui tawaran dari seseorang (almrh) yang mempunyai jabatan berpengaruh di perusahaan pers media. Kesadaran, Skill dan Kemampuan Jurnalisme personal menjadi hak dan kewenangan pemilik perusahaan pers media yang di dalam pengelolaannya berkoridor dengan tetap mengindahkan peraturan-peraturan yang berlaku.

Bagi penulis, tiap insan telah terbekali sarana yaitu Akal, Hati, Roh oleh Sang Kholik sebagai guna untuk mengenali dan/atau berpengetahuan dengan dan tanpa seorang guru (Qodrati/Autodidak).

Sepintas terlintas dalam benak ingatan kita sebagai bangsa Nusantara tentang sejarah lahirnya pendidikan di negeri ini, yang apabila dikaitkan dengan nama Indonesia yaitu model dan/atau sistem pendidikannya ialah mengadopsi atau masih dari peninggalan para penjajah (Asing).

Menurut penulis, model atau sistem pendidikan tersebut (produk kolonial) telah menjadi rumus kebenaran ilmu pengetahuan yang sudah terlanjur, sudah barang tentu sangatlah berdampak pada karakter dan kepribadian bangsa, terlebih dalam keberlangsungan hidup rakyat Indonesia yang sangat Bhineka (Tauhid).

Butuh waktu dalam penyesuaiannya, singkat kata, melalui haluan pendidikan produk bangsa-bangsa Nusantara, yaitu yang berbudi santun, akomodatif yang tidak alergi terhadap apapun dan siapapun. Berpekerti sopan, memfilter dan tidak mudah terpengaruh bahkan sangat mempengaruhi terhadap hal yang baru. Serta menjunjung tinggi nilai-nilai hakiki kemanusiaan sebagai tujuan luhurnya.

Bagi penulis, terdapat makna esensial pada filosofi kata/kalimat Cokro Manggilingan dengan Innalillahi Wa Innailaihirojiun yaitu literatur, atau sejarah akan berulang dengan peran dan pelaku yang berbeda, sebagai jawaban bahwa kenapa bangsa yang berbudi pekerti luhur pernah terjajah.

Mengingat usia kemerdekaan Negara Kasatuan Republik Indonesia (NKRI/Aqidah) akan memasuki tahun yang ke-76, bangsa Indonesia dan seluruh bangsa-bangsa sedunia saat ini sedang dihadapkan pada persoalan wabah Virus Covid-19.

Menarik benang merah dari uraian singkat artikel diatas, merespon secara seksama sebagai harapan dapat terbaca segenap peristiwa yang sedang kita hadapi, tentu dengan sikap yang bijaksana dan tanpa harus mencari kambing hitamnya, terlebih saling menyalahkan.

Terdapat tiga pola dalam metode dan tujuan politik yang sedang berlangsung, pertama yaitu pola Predator Politik yang dengan konsekuensi mudahnya dan secara beruntun manusia meninggal dunia, literatur sejarah mencatat tidak hanya terjadi pada penguasa dan kekuasaannya, namun juga pada jaman para nabi.

Metode dan tujuan politik yang kedua, yaitu pola Preman Politik yang menjadi tujuannya adalah matrealistik atau kekayaan harta benda. Ketiga, metode dan tujuan politik dengan pola Pelacur Politik yang hanya menjadikan kepuasan atau suka-suka dalam berkancah politikus sebagai tujuannya.

Bercermin pada tiga pola politik tersebut dengan metode dan tujuannya, baik tujuan politik individu, golongan/kelompok, terlebih politik berbangsa dan bernegara.

Guna menjawab dan sekaligus menjadi formula alami atas terhambatnya metabolisme (Sunnatulloh) pola dalam berpolitik. Maka siapakah dan dimanakah posisi kita saat ini dalam berpola politik, baik sebagai politikus individu, politikus golongan/kelompok, politikus berbangsa dan maupun bernegara.

Semoga negara, bangsa dan rakyat Indonesia tercinta khususnya, dijauhkan dari praktek-praktek dari pola metode dan tujuan politik yang tidak dapat diwariskan kepada anak cucu generasi penerus bangsa.

Berpolitik, berpola Sopan (pekerti/roh), bermetode Santun (luhur/hati) dan bertujuan Suci (budi/akal) menjadi kepastian akan hancur dan binasanya keangkara murkaan oleh kelemah lembutan diri. bersambung.(Sub)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *