CB, TULUNGAGUNG – Seperti biasa, pada Jumat Minggu kedua di bulan Suro atau satu Muharram, Pusaka Tumbak Kanjeng Kyai Upas dilakukan prosesi jamasan (dimandikan, red). Konon, pusaka yang pernah dipinjam tokoh pahlawan (Bung Tomo, red) untuk menumpas penjajah Belanda kala itu, diyakini memiliki kekuatan magis yang ‘sangat besar’ dan disakralkan.
Bahkan Pusaka Kanjeng Kyai Upas itu ada sebuah lafadz Alloh dan Mohammad yang berbahan dari emas murni. Konon katanya, emas murni yang ada di pusaka itu adalah upaya pengaburan saat pusaka tersebut diburu oleh penjajah Belanda. Sebab, pusaka Kanjeng Kyai Upas ini memiliki keampuhan yang sangat luar biasa dibandingkan dengan pusaka-pusaka lain yang ada di tanah Jawa.
Pada Jumat (20/08) serta dihalaman Dinas Perpusatakaan dan Kearsipan Pemkab Tulungagung, Pusaka Kanjeng Kyai Upas ini telah dijamas. Sedangkan prosesi Jamasan Pusaka ini, yakni sebagai wujud syukur pada Tuhan Yang Maha Kuasa serta upaya agar Tulungagung dijauhkan dari balak maupun marabahaya.
Bupati Tulungagung Drs Maryoto Birowo MM mengatakan, bahwa tradisi Jamasan yang digelar itu adalah sebuah tradisi ritual atau adat yang digelar setiap tahunnya, yakni sejak Raden Mas Pringga Kusuma sebagai pembawa Pusaka Kanjeng Kyai Upas tersebut.
Dan, menurut bupati, Pusaka Kyai Upas ini sendiri merupakan simbol memperkuat mental pada para pejabat pendahu hingga sekarang. Menurutnya, pusaka dengan jenis tumbak ini adalah salah satu pimpinan alias komando dari jaman Kerajaan Mataram. Menurutnya, sebelum pusaka ini berada di Kabupaten Tulungagung, kala itu Tulungagung diterpa banjir selama bertahun-tahun dan setelah datangnya pusaka tersebut, banjir di Tulungagung pun langsung surut.
“Pusaka Kanjeng Kyai Upas ini merupakan simbol pemerkuat mental pada pejabat dahulu, yakni era Raden Mas Pringga Kusuma dan yang terus turun temurun hingga bupati sekarang ini,” kata Bupati Maryoto saat dikonfirmasi para awak media usai mengikuti Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas.
Ditengah pendemi Covid-19, lanjut Bupati Maryoto, Jamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas ini tentu sangat berbeda. Karena, sebelum ada pendemi, yakni pusaka tersebut diarak terlebih dulu sebelum dilakukan prosesi penjamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas. “Sangat berbeda sekali, karena dulu sebelum dilakukan penjamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas itu diarak terlebih dulu dari luar,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Tulungagung Bambang Ernawan berharap, yakni usai jamasan pusaka Kanjeng Kyai Upas ini segera terbebas dari marabahay, balak serta Pendemi Covid-19 yang menggemparkan dunia itu.
“Seperti harapan masyarakat Tulungagung, setelah penjamasan Pusaka Kanjeng Kyai Upas ini akan terbebas dari marabahaya, balak dan Pendemi Covid-19. Dan ini adalah prosesi tolak balak agar masyarakat dihindarkan dari segala ujian maupun cobaan,” ujar mantan Kepala Bagian Perekonomian Pemkab Tulungagung ini dengan mimik serius.(Hsu/Khairul)
