Kabarkan Tentang Hari Kemudian, Tancapkan Pendidikan Semenjak Dini Dan Tegakkan Sejarah Masa Silam

CB, GRESIK – Bila sendi-sendi dalam keberlangsungan hidup berkemanusian atau yang telah menjadi istilah kekinian yaitu kehidupan sosial kemasyarakatan, menurut penulis, kata ‘sosial’ mulai berlaku pada abad-abad terakhir ini, yang sangat berpengaruh pada makna persatuan.

Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Hukum dan HAM, ialah sendi-sendi yang telah menjadi prinsip dan/atau pedoman bagi segenap rakyat Indonesia dalam keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menjadi pesan dan tujuan utama dalam artikel ini yakni tentang Pendidik/Budaya bangsa yang sangatlah fundamental, erat kaitannya dan telah menjadi hak/kewajiban bagi tumpah darah Indonesia dalam rangka turut menjaga keutuhan sebuah bangsa, yang akan mengakar pada Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menelaah lebih dalam dan luas dari perjalanan se-Orang Tokoh Misterius yang bergelar sebagai Hamba Tuhan dengan tiga kejadian fenomenal yang hingga detik ini masih tetap berlaku atau kontemporer dalam mewarnai Jagad Pendidikan/Budaya.

Pendidikan/Budaya bangsa tentu menjadi titik dasar, diawali dari Pendidikan/Budaya personal atau individu, baik individu sebagai Mahkluk, individu sebagai Insan, individu sebagai Ummat dan terlebih Pendidikan/Budaya individu sebagai Hamba Tuhan yang senantiasa ber-Taqwa.

Berharap besar bagi penulis, kepada publik, agar kiranya sudi mengoreksi, menegur dan terlebih membimbing penulis baik pada aspek artikel maupun aspek kepribadian dalam rangka komplementer dalam mewujudkan makna kemanusiaan yang hakiki, yaitu saling menyempurnakan antar sesama sebagaimana sifat qodrat manusia yang lemah dan penuh kilaf.

Menjadi pemahaman pribadi bagi penulis yang diperoleh dari transformasi informasi melalui frekwensi gelombang udara yang positif tertangkap oleh pangeroso atau puncak pikiran (inspirasi/ilham/maunah).

Pendidikan/Budaya di alam Jagad Raya ini terikat dan tidak akan terlepas dari kejadian janggal atau peristiwa fenomenal dari Sang Tokoh Misterius yang memperoleh karunia ilmu langsung dari sisi-NYA, penyandang gelar sebagai Manusia Abadi.

Makna dan hikma dari tiga kejadian janggal atau peristiwa fenomenal dari perjalanan Sang Tokoh Misterius saat memberikan pengajaran kepada si-Penghendak ilmu (Murid) atas perintah dari Yang Maha Kuasa, akan terurai singkat oleh penulis.

Kejadian janggal atau peristiwa fenomenal yang per-Tama dilakukan oleh Sang Tokoh Misterius yaitu melubangi perahu atau kapal yang akan berperjalanan laut, sebagai alasan bahwa dalam perjalanannya nanti akan bertemu dengan para bajak laut.

Bagi penulis, memaknai Pendidikan/Budaya dalam peristiwa itu adalah Kabarkan Tentang Hari Kemudian, berikan petunjuk ilmu dan/atau pengetahuan seiring dengan perkembangan zamannya, terutama tentang adanya penguasa dimasa depan (Akhirat) yang sudah menanti, dan sudah barang pasti Pendidikan/Budaya yang hanya terdapat didalam Ilmu-ilmu Agama, tentang hikma itu ialah Surga atau Neraka.

Kejadian janggal dan peristiwa fenomenal yang ke-Dua dari Sang Tokoh Misterius ialah terulirnya leher seorang anak.

Bagi penulis, bermakna pelajaran dalam hal itu ialah Tancapkan Pendidikan/Budaya Semenjak Dini, jika tidak, maka akan berhikma buruk bagi generasi penerus bangsa. Peradaban akan hancur, sebagai misal Korupsi, Kolusi dan Nepotisme tidak lagi sebuah tabiat yang tabu dilakukan namun sudah menjadi tradisi bahkan membudaya, tentu akan menjadi kepastian menyusul punahnya jati diri sebagai sebuah bangsa yang beradab.

Tancapkan Pendidikan Sejak Dini, adalah faktor utama dalam mewujudkan keberlangsungan hidup ummat manusia yang akan berhikma pada persatuan dan kesatuan bangsa. Tidak ada kata terlambat bagi siapapun terlepas dari berapapun usianya bahwa menuntut ilmu itu wajib hukumnya, diawali dari bangun tidur hingga akan menjelang tidur kembali, Sejak Dari Buaian Hingga Keliang Lahat.

Kejadian janggal atau peristiwa fenomenal yang ke-Tiga yang dilakukan oleh Sang Tokoh Misterius bersama si-Penghendak ilmu, yaitu peristiwa menegakkan kembali pagar tuah yang miring atau akan roboh.

Tegakkan Sejarah Masa Silam dalam arti yang sesungguhnya, bagi penulis, Pagar Tuah Yang Miring/Akan Roboh, yakni berhikma pertanda bahwa Pendidikan/Budaya yang kurang perhatian, kurang dimengerti, kurang dipahami, terlebih kurang terjaga dan dirawat, maka akan berakibat Runtuh dan/atau Tenggelamnya Peradaban, Astagfirrullohul Adzim.

Diawali dari history hidup individu, berlaku sejarah Pendidikan/Budaya bangsa yang melahirkan peradaban, melalui keseriusan dan kesungguhan dari seluruh lapisan masyarakat, semua elemen pemerintah dan sekaligus penyelenggara negara, tentunya.

Tegakkan Sejarah Masa Silam, penulis berkeyakinan akan berekspektasi pada Tegaknya Guru, Tegaknya Peradaban, Tegaknya Jati Diri Bangsa, Tegaknya Kekayaan dan Tegaknya Kejayaan Sejati.

Jangan sampai berlaku dibumi tercinta ini Negri Indonesia Raya, pepatah yang mengatakan bahwa jika ‘Kacang Lupa Akan Kulitnya, Maka Sejarah Akan Menggilas Siapapun Yang Melupakannya’. Naudzu Billa, Summah Naudzu Billa Mindzalik.

Pada akhirnya dari perjalanan Sang Tokoh Misterius bersama si-Penghendak ilmu, penulis berharap turut menumpang hikma kerendahan hati, ”engkau memiliki ilmu yang tidak aku miliki, begitupun aku memiliki ilmu yang tidak engkau miliki”.

Akhirul kalam, berharap maklum disertai beribu kata maaf dari lubuk hati yang terdalam, terhadap banyaknya kekurangan dari pada penulis, sekali-kali penulis tidak mempunyai niat menyimpang siurkan sejarah, terlebih berniat untuk menimbulkan dampak rendahnya luhur budi pekerti sebagai Bangsa Yang Adi Luhung.(Sub)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *