Lebaran Bersama Para Sholeh, Pangeran Benowo Dan/Atau Danang Sutowijoyo

CB, GRESIK – Berbicara mengenai hukum yang berlaku di dalam penyelenggaraan pemerintahan, terlepas dari bentuk negara dan sistem pemerintahannya, pada artikel ini penulis menawarkan referensi ilmiah yang didapat dari perjalanan hidup pribadi.

Sekelumit pengalaman hidup yang tidak secara sengaja, sekaligus menjadi perjalanan spiritual dari penulis. Mengurai benang kusut yang mengganggu logika spiritualialitas, khususnya bagi penulis sendiri. Tetap berpijak pada norma, dengan penuh harapan dapat diterima oleh publik terutama bermanfaat bagi semuanya.

Suasana punden atau lokasi pesarehan Pangeran Benowo berbeda dari hari atau waktu-waktu sebelumnya, sebagaimana yang dirasakan oleh penulis, seketika penulis berfikir dengan alam bawah sadar, bahwa ada apakah gerangan, kok tidak seperti biasanya, rasa takut dan gelisah mengerubungi.

Sayup-sayup terdengar gemah suara takbir dari seluruh penjuru, suara takbiran yang bersumber dari seluruh masjid disekitar pesarehan Pangeran Benowo. Sadar sendirian, penulis ingat bahwa waktu itu menjelang lebaran pada esok harinya.

Tiga kali malam takbiran, dimakam atau pesarehan Pangeran Benowo, perjalanan hidup sekaligus pengalaman spiritual yang tidak sengaja terlalui oleh penulis. Frustasi, ambisi dalam memperoleh ilmu luhur yang berakibat tidak kuat dalam menghadapi badai cobaan, keluargapun meninggalkan.

Dimensi dan sanad keilmuan dari Dua Tokoh pelaku sejarah Nuswantara yang terhimpun oleh penulis sampai saat menjadi sebuah artikel ini, besar harapan semoga bagi Beliaunya Pangeran Benowo menerimanya sebagai ungkapan rasa terima kasih dari penulis, Aamiin.

Pangeran Benowo/Syekh Abdul Halim/Mbah Tosari adalah putra semata wayang dari Kanjeng Sulthan Hadi Wijaya. Sepakat, literature sejarah mengungkapkan bahwa Beliau Pangeran Benowo mempunyai kembaran namun tidak saudara sedarah yakni Danang Sutowijoyo atau yang bergelar Panembahan Senopati setelah secara tidak sengaja beradu, sebagai akibat meninggalnya Pangeran/Adipati Jipang.

”Jangan engkau kira orang-orang yang sholeh itu meninggal”, menjadi dasar bagi penulis dan yang dipadu dengan pengalaman spiritual yang dialami selama 3 tahun atau tiga kali malam menjelang lebaran idul fitri di Punden Pangeran Benowo, berlokasi diarea Kota Surabaya.

Mbah Tosari adalah nama pemberian dari Kanjeng Eyang Sunan Giri, atau panggilan akrab Beliaunya dilingkungan taman pengajaran Kanjeng Sunan, tutur warga sekitar kepada penulis, Tosari yang bermakna menata santri (Noto Santri).

Hukum, terdapat dua rana yaitu rana luar atau yang berlaku diluar diri manusia dan menjadi kesepakatan untuk diberlakukan dalam keberlangsungan penyelenggaraan pemerintahan, berbangsa dan bernegara.

Sedangkan rana hukum yang ke-2, penulis bercermin yang sekaligus berkeinginan menapak tilas untuk menerapkan pada diri pribadi, dari Beliaunya Danang Sutowijoyo atau Panembahan Senopati yaitu hukum yang berlaku pada internal jiwa perseorangan buah dari disiplin ilmu rohani.

Mekanisme ilmu rohani yang senantiasa ter-Asah atau sanad keilmuan, mengingat Danang Sutowijoyo selain putra angkat dari Kanjeng Sulthan Hadi Wijaya, Beliau Panembahan Senopati adalah juga murid dari Kanjeng Sunan Kali Jaga, salah satu Wali Jawa yang termashyur dengan karakteristiknya yaitu Ngeluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorakeh, Digdoyo Tanpo Aji dan Sugeh Tanpo Bondo.
bersambung.(Sub)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *