CB, Mojokerto – Rapat Dengar Pendapat Komisi II bersama DiskopUKMperindag, Satpol PP, Dishub, dan UPT Pasar terkait rencana relokasi pedagang Pasar Tanjung Anyar, digelar di Ruang Rapat DPRD Kota Mojokerto, Jl, Gajah Mada No.145 Mojokerto, Kamis (13/10/22).
Ketua Komisi II DPRD Kota Mojokerto, Agus Wahjudi Utomo mengatakan bahwa DPRD Kota Mojokerto mendukung penuh Pemerintah Kota Mojokerto terkait relokasi pedagang tumpah di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto.
Ia berharap pemerintah harus menyiapkan segala kemungkinan yang ada, termasuk nanti jika ada protes-protes dari pedagang yang terkena penertiban.
“Jangan sampai ada kepentingan politik yang masuk dalam penataan ini agar nantinya berjalan secara lancar,” ucapnya.
”Dalam agenda penertiban dan sasaran relokasi harus benar-benar pedagang yang biasanya berjualan. Jangan sampai nanti bukan pedagang karena bawaan pejabat atau bahkan dewan malah dapat lapak di area relokasi,” tegas Agus.
Kepala Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (DiskopUKMPerindag) Kota Mojokerto, Ani Wijaya SE, MM menyampaikan bahwa kasus Pasar Prapanca menjadi pelajaran bagi semuanya untuk menata semua pedagang pasar.
Mereka bukan PKL yang liar tapi memang pedagang kami yang tumpah. Salah satu penyebab mereka tumpah karena kondisi fisik di area dagang yang kurang memadai, bahkan tidak memenuhi syarat untuk jualan, makanya ini perlu di tata. Rencana penataan mulai dimatangkan pihaknya sejak tahun 2020. Di tahun 2021 dilakukan pergeseran anggaran untuk pemeliharaan Pasar Tanjung Anyar, juga Pasar Prajurit Kulon dan Pasar Kranggan. Jelas Ani.
Tidak semuanya direlokasi, ada sekitar 53 pedagang yang boleh beraktivitas seperti yang mereka lakukan selama ini, mereka berdagang mulai pukul 21.00 Wib sampai pukul 05.00 Wib pagi. Sehingga ada 143 pedagang yang terelokasi. Dari pendataan, tercatat 64 pedagang diantaranya merupakan warga Kota Mojokerto, selebihnya warga luar daerah.
Sebanyak 64 pedagang warga kota dimasukkan kembali ke area pasar, kecuali pedagang buah, meski ber-KTP Kota Mojokerto.
Untuk pedagang buah yang selama ini berjualan di jalan KH Nawawi, baik yang warga kota maupun luar kota, semuanya akan di relokasi ke Pasar Kranggan yang kini diplot jadi pasar buah. “Sudah kami siapkan 40 bedak, untuk menampung pedagang buah” terangnya.
Pedagang asal luar kota yang berdagang sembako akan di relokasi ke Pasar Prapanca. Sementara pedagang mamin di relokasi di Pasar Kliwon.
Setidaknya sudah dua kali sosialisasi soal relokasi sudah diberikan ke para pedagang itu. Bahkan imbauan agar mereka memilih titik dagang yang sudah disediakan dan mendaftar ke pihaknya. Dan ujung bulan ini jadi kalender imbauan terakhir. “Kalau mereka bandel, tetap bertahan di tempat lama, ya terpaksa akan dilakukan relokasi paksa,” pungkasnya. (Ertin Primawati/Adv)
