Dinas Koperasi Tulungagung Beri Pelatihan Puluhan Pelaku Usaha Konveksi Sobontoro 

CB, TULUNGAGUNG-Bisnis konveksi, masih menjadi salah satu usaha yang sangat diminati para pengkais rejeki. Sebab, permintaan untuk usaha ini terbilang tinggi di Indonesia, dikarenakan pakaian merupakan kebutuhan pokok untuk manusia, dan tak heran bisnis konveksi ini tidak pernah mati dan mampu bertahan diberbagai kondisi.

Di Kabupaten Tulungagung ini misalnya, selain dikenal hasil marmernya, Tulungagung juga sangat dikenal sebagai sentra konveksi besar di Jawa Timur, yang juga sudah merambah di beberapa manca negara. Bahkan, ratusan usaha konveksi kelas besar maupun rumah tangga juga ada di kota yang dikenal pula nama kota seribu warung kopi (warkop) ini.

Namun demikian, kadang usaha konveksi tak jarang alami gulung tikar, meski tak sedikit yang masih bertahan dengan segala kekurangan. Tak dipungkiri, penyebabnya karena kondisi perekonomian tidak menentu dan kadang pula mereka para pelaku usaha konveksi kurang jeli soal kualitas produksi serta ceroboh dalam pemasaran.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil Menengah Kabupaten Tulungagung telah memberi pelatihan pada puluhan pelaku usaha konveksi warga Sobontoro di Balai Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu agar lebih cerdas dalam berusaha.

“Pelatihan ini adalah upaya membantu para pelaku usaha konveksi di Tulungagung agar bisa menjaga kualitas produknya,” kata Efriza Pahlevi Wulandari M.E.Sy saat menjadi narasumber pada puluhan pelaku usaha konveksi di Desa Sobontoro, Selasa (13/12).

Selain itu, lanjut Konsultan Pendamping PLUT-KUMKM (Pusat Layanan Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil Menengah) Tulungagung ini, agar tidak menjual hasil produknya dengan harga yang murah, atau bahkan mungkin lebih murah lagi. Dengan cara seperti itu, tentu mereka tidak pernah berpikir mendapat keuntungan.

Efriza juga berharap, hal ini jangan sampai terjadi
“Kami tidak berharap seperti itu pada pengusaha-pengusaha konveksi di Tulungagung. Jadi, untuk harga produksi tentunya harus memperhatikan pesaing yang ada di pasaran,” jelas Efriza.

Dan, imbuhnya, pelaku usaha kecil harus memberdayakan yang mikro dan apabila mereka berdiri sendiri-sendiri maka yang kecil bakal mati. Karena, menurutnya, satu sentra itu adalah merupakan suatu ekosistem dan ini sangatlah penting.

“Jadi jangan berdiri sendiri-sendiri dan harus menerapkan ekosistem, kalau ingin terus semakin berkembang,” harap perempuan kelahiran Kalidawir ini.

Masih kata Efriza, jika pelaku usaha konveksi tidak banyak memiliki waktu untuk memanfaatkan teknologi, Dinas Koperasi Tulungagung juga sudah menyediakan online bagi pelaku usaha di Tulungagung untuk pemasangan. Dan, tentunya, para pelaku usaha ini tinggal mendaftarkan dan pengoperasian dalam mempromosikan hasil produksi via online adalah tanggungjawab Dinas Koperasi Tulungagung.

Sementara itu, Sodik Afandi (43), Kepala Desa (Kades) Sobontoro Kecamatan Boyolangu mengatakan, bahwa Desa Sobontoro produk unggulannya adalah konvensi, dan jenisnya pun beraneka ragam. Namun, untuk konveksi di wilayahnya, yakni jenis daleman (berbagai kebutuhan manusia yang ada di dalam, red).

Untuk itu, upaya mempertahankan kualitas dari produk milik warganya itu, pihaknya telah menggelar Quality Control Produk Daleman di balai desa setempat serta upaya membantu para pelaku ekonomi dalam pemasarannya.

“Kadang produksinya itu lancar, tapi untuk pemasangan itu kesulitan. Sehingga produk yang dihasilkan itu mengendap di rumah,” kata Sodik.

Dengan demikian, lanjut Kades Sobontoro, hal-hal seperti itu diharap tak terjadi pada penguasa konveksi yang ada di wilayahnya itu. “Kalau ini terjadi terus menerus, pastinya perputaran ekonomi kurang lancar, sehingga mengakibatkan dampak ekonomi untuk masyarakat Sobontoro sendiri,” paparnya.(Hsu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *