CB, Magetan – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan melakukan evaluasi pendampingan Pos Kesehatan Pondok Pesantren (Poskestren) Tahun 2022 untuk 5 Pondok Pesantren (Ponpes) yang dilaksanakan di Gedung Korpri Kabupaten Magetan, Kamis (15/12/2022).
Kegiatan ini diikuti oleh para Pelaksana Promkes, Pelaksana Kesling, Pendamping dan Pengasuh Ponpes, serta Santri Husada.
Selama kegiatan ini mereka perwakilan pondok memaparkan beberapa materi terkait kegiatan hasil dari pendampingan poskestren yang berada dibawah binaan puskesmas terkait yang sudah terlakasana.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan dr Rohmad Hidayat, melalui Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Totok Aprijanto mengatakan, evaluasi pendamping poskestren yang dilakukan pada tahun 2022 ini untuk Dinkes Magetan kebagian untuk membina 5 pondok pesantren yang mana 5 pondok tersebut untuk poskestren sendiri masih dirasa belum maksimal pada tahun 2020 hingga 2021. “Jadi karena belum maksimal dan masih dianggap perlu adanya pendampingan nah itu tahun ini diprioritaskan untuk 5 pondok tersebut, “ujar Plt Kabid Kesmas Totok Aprijanto.
Dijelaskanya, kelima pondok tersebut pada saat ini sudah terdapat Poskestren walaupun ada pondok yang kecil namun setelah melakukan koordinasi ternyata masih bisa untuk disediakan tempat, “alhamdulillah meski tidak besar namun dapat digunakan untuk melakukan kegiatan sehari-hari bila ada masalah-masalah kesehatan di pondok, “kata Totok.
Masih lanjut Totok menjelaskan bahwa, Poskestren ini adalah suatu bentuk kemandirian dari Ponpes, konsepnya sama seperti Posyandu, dari oleh dan untuk masyarakat khususnya masyarakat Ponpes untuk itu disetiap Ponpes yang sudah terdapat Poskestren disitu ada yang jadi Kader santri husada yang dapat menjadi pionir bagi 10 ataupun lebih dari teman-temannya, “jadi kita pilih dan kita latih dari masing-masing pondok tersebut di Kabupaten, kalo sudah kita latih kita berikan ilmunya untik kemudian dikembangkan di masing-masing pondok tersebut, “jelasnya.
Selain kegiatan rutin terkait dengan Poskestren, ia berharap adanya sebuah inovasi-inovasi seperti adanya Posyandu remaja, minum ppd, minum susu, kerja bakti hingga melakukan senam bersama, atau dikemas dengan kegiatan-kegiatan yang lain sehingga menjadi sebagai inovasi yang cukup menarik meskipun terlihat sederhana.
“Kami juga berharap seluruh santriwan dan santriwati yang mondok di Magetan ini semuanya sehat, kalau dulu belum sakit gudik belum disebut mondok, tapi untuk sekarang itu sudah tidak ada, jadi santri yang bersih, sehat, mumpuni, otaknya juga cerdas dan penuh dengan taqwa , “ungkapnya.
Selain itu, Totok juga menambahkan, bahwa untuk tahun depan Dinkes hanya mendapatkan biaya dari Pemprov untuk melakukan pendampingan pada 2-3 Ponpes yang ada di Kabupaten Magetan. Hal itu karena Pemprov menginginkan melepaskan diri agar semuanya dapat didanai langsung oleh Kabupaten sendiri.
Namun Totok menegaskan, bahwa untuk tahun depan pihaknya akan tetap mengusahakan untuk tetap melakukan pelatihan di beberapa Ponpes yang ada di Magetan dengan menggunakan Apbd karena untuk saat ini Poskestren sudah menjadi salah satu syarat utama untuk mengurus keperijinan bagi Ponpes.
“Nanti semua pondok di Kabupaten Magetan totalnya ada sekitar 60, jadi kita sudah melakukan koordinasi dengan Kemenag, bagi pondok yang belum dan mau berijin ini syarat utamanya adalah dengan memiliki bangunan poskestren, jadi untuk tahun depan beberapa pondok ini akan tetap kita bina meskipun tidak maksimal karena keterbatasan anggaran, jadi nanti tetap pembinaan dengan Puskesmas dan tetap melakukan evaluasi, “pungkasnya.
(Caknan)
