CB, TULUNGAGUNG-Dini Ayu Puspitaningrum (30) warga dusun Krajan Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, saat ini hanya bisa pasrah dan berharap ada dewa penolong saat Kartu Indonesia Sehat (KIS) dinyatakan tidak aktif oleh pihak rumah sakit Malang. Karena, kartu itu adalah satu-satunya pusaka bagi dirinya untuk bisa menolong buah hatinya yang menderita penyakit ginjal bocor.
Namun, usut punya usut, tidak aktifnya KIS atas nama Mohammad Delvino Nanda ‘si bocah penyandang penyakit ginjal bocor’ ini, yakni usai ‘perangkat desa’ melakukan survey di rumah yang ditempatinya itu. Sedangkan survey yang dilakukan petugas itu setelah ada warga yang melaporkan, jika Dini ini keluarga mampu.
Dini menceritakan, dalam survey itu dirinya tak ditanyai apa-apa oleh petugas, dan mereka pun hanya mencatat setelah datang di kediamannya. Padahal, rumah yang ditempati itu adalah milik mertua dan motor yang ada di rumah itupun pembelian mertua yang saat ini bekerja di luar negeri.
Sedangkan Budi Antoro (suami Dini, red) dalam kesehariannya pun hanya membantu bapaknya, yakni membuat pisau dan sabit di rumah. Itupun kalau orang tuanya lagi mendapatkan jop yang melimpah.
“Sebenarnya saya sudah melakukan konfirmasi terlebih dulu sebelum berangkat di Malang, dan setelah mendapat kepastian kalau KIS itu aktif, besuknya saya pun langsung berangkat ke Malang. Tapi apa kenyataannya, justru rasa kecewa yang saya dapat,” kata Dini kepada Cahaya.
Yang lebih kecewa lagi, imbuhnya, untuk bisa berangkat ke Malang, ia harus menggadaikan motor almarhum bapaknya. Namun demikian, sebelum menggadaikan motor itu dirinya pun meminta izin kakak kandung almarhum bapaknya.
“Sebenarnya juga nggak sampai hati pak, tapi motor itu adalah satu-satunya harapan saya agar bisa berangkat ke Malang. Ya setelah tahu kenyataannya seperti itu, saya pun hanya bisa pasrah saja,” jelas Dini dengan nada kalem.
Menanggapi masalah yang dialami warganya itu, Kepala Desa Kiping Sumanto merasa prihatin. Untuk itu, iapun meminta pada warganya agar tidak gampang mengambil kesimpulan yang berdampak kurang baik bagi orang lain serta belajar pola hidup rukun dilingkungan.
“Kalau bagi kami (pemerintah desa, red), yang dimaksud tidak mampu itu apa. Ibarat burung, kandangnya bagus tapi isinya tidak ada apa-apa, atau kandangnya jelek tapi isinya berharga,” kata Kades Kiping ini penuh makna.
Sehingga, imbuh kades, hal seperti Ini belum bisa dijelaskan secara rinci, mana-mana yang masuk kategori miskin. Untuk itu, terkait kasus yang menimpa warganya itu (Dini, red) dirinya merasa bingung. Padahal, menurutnya, barang yang ada dirumah Dini itu adalah barang titipan dari ibu mertua, namun sebagian warga menganggap itu adalah miliknya.
“Kalau menurut pemdes, Dini layak dapat bantuan PKH maupun BPJS,” kata kades seraya mengatakan kadang tetangga itu cemburu sosial atau mungkin persaingan pekerjaan.
Dan yang ia ketahui dilapangan, tambahnya, kalau hanya rumahnya bagus atau memiliki motor, seharusnya ditelusuri dulu alias rumah atau barang-barang yang ada di rumah itu benar-benar milik mereka atau tidak.
“Karena banyak sekali dilapangan, rumah bagus dan punya motor tapi itu titipan saudara atau mertua yang lagi bekerja di luar negeri. Jadi, sepengetahuan saya, Dini ini jelas tidak mampu dan desa Insyaalloh tidak salah memilih dan memberi,” paparnya.
Disinggung survey dari perangkatnya itu, pria Asal Banyuwangi ini bakal klarifikasi masalah tersebut. Disisi lain, langkah yang akan ditempuh kali pertama, yakni dirinya bakal mendatangi BPJS, karena disitu dirinya akan tahu KIS itu hilang atau memang dicoret.
Iapun berharap, setelah mengetahui semua permasalahan ini, KIS itu segera bisa hidup kembali. “Keterangan perangkat, per tiga bulan anaknya harus menjalani rawat inap di Malang. Jadi sangat penting sekali untuk mengaktifkan lagi BPJS itu,” jelasnya.(Hsu)
