CB, TULUNGAGUNG-Menjaga Cagar Budaya merupakan bentuk dari melestarikan kebudayaan. Tentu pula, dalam melestarikan Cagar Budaya diperlukan sinergi yang baik antara pemerintah dan masyarakat. Selain itu, dukungan dari berbagai pihak yang diyakini dapat mendorong partisipasi dalam melestarikan cagar budaya juga tak kalah penting.
Oleh karena itu, pelestarian Cagar Budaya harus dilaksanakan secara konsisten dan penuh tanggung jawab. Sehingga, segala upaya yang dilaksanakan dapat membuahkan hasil Mengingat, cagar budaya merupakan kekayaan bangsa, yang perlu dilindungi serta dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa.
Di Desa Banaran Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung ini misalnya, tak banyak yang tahu kalau di desa tersebut ada peninggalan nenek moyang, yakni prasasti Asahan peninggalan Empu Supa. Prasasti tersebut berlokasi diwilayah pemakaman umum gunung cilik di dusun Krajan RT 03 RW 03, Desa Banaran.
Dan, upaya melestarikan prasasti tersebut, Pemdes setempat sering kali memberi pemahaman pada warganya, khususnya para generasi-generasi muda agar kelak paham akan pentingnya sejarah.
Disisi lain, upaya menjaga kelestarian cagar budaya tersebut, Pemdes Banaran telah membangun tembok penahan tanah (TPT) di Pemakaman Gunung Cilik. Dan, pembangunan TPT itu sendiri menghabiskan anggaran kisaran Rp. 84.827.500 yang bersumber dari dana desa.
“Terkait kegiatan Pemerintah Desa Banaran, termasuk didalam pengelolaan APBDes tahun 2023, perlu saya sampaikan, satu poin kegiatan pembangunan tembok penahan tanah ada dua titik dan yang berlokasi di wilayah dusun Krajan dan dusun Kanigoro,” kata Kades Banaran Andri Suprambodo seraya mengatakan untuk biaya pembangunan di Konigoro berkisar Rp.47.565.00.
Pembangunan tembok penahan tanah ini sendiri, imbuhnya, dikarenakan lokasi pemakaman itu letaknya ada atas alias pegunungan. Mengingat, di pemakaman gunung cilik itu sendiri ada sebuah prasasti yang harus diselamatkan serta harus dijaga dengan baik.
“Itu saya gunakan untuk TPT yang notabenya untuk menahan tanah yang ada di wilayah pemakaman, yang mana disitu ada prasasti peninggalan nenek moyang. Jadi saya memelihara prasasti yang ada di wilayah kami dengan membangun tembok penahan tanah di wilayah pemakaman gunung cilik itu,” bebernya.
Kades Andri Suprambodo menambahkan, pembangunan tembok penahan tanah itu sendiri telah rampung jelang puasa kemarin. Dan, setelah pembangunan itu selesai, warga masyarakat pun melakukan doa bareng di lokasi pemakaman. “Pembangunan tembok penahan tanah itu sebenarnya sudah rampung pada H-7 puasa Ramadhan. Alhamdulillah, setelah itu masyarakat pun langsung melakukan doa bersama dilokasi pemakaman,” kata pria berperawakan kalem ini.(Hsu)Related: amber alert execute action oema what does it mean, mark fidrych cause of death, downy unstopables commercial actress 2018, benefits of industrial arts, rv parking at minute maid park, glucocorticosteroid vs albuterol for anaphylaxis, david jeremiah israel tour 2022, granby ct police scanner, was caleb older than joshua, hungarian funeral notices 2021, comenity bank victoria secret, new directions behavioral health lawsuit, city of tampa code enforcement violations, xfinity modem blinking green red and orange, list of hurricanes that hit florida,
