Dibonceng Gendut Naik Onthel

Oleh; Sumarwoto

Tadi pagi menjelang siang saya balik ke Madiun dengan naik kereta api (KA). Setahun terakhir ini saya bolak-balik ke Tulungagung-Madiun memang dengan naik KA. Moda transportasi ini lebih cepat dan nyaman; sejuk ber-AC dan anti-macet. Untuk menuju Stasiun Tulungagung, biasanya, saya dari rumah diantar oleh Gandhi dan Gobang dengan naik mobil.

Tapi, kali ini, saya diantar oleh Gendut dengan naik motor NMax. Gandhi tak bisa mengantar saya karena pas mengantar Alghan balik ke Batu. Gobang pun tak bisa mengantar karena ada kesibukan keluarganya. Oleh karena itu saya diantar oleh Gendut.

Sebelum saya naik kereta, Gendut ngajak ngopi dahulu di warung depan stasiun, sebab kereta masih setengah jam lagi datangnya. Saat minum kopi dan ngobrol ringan, Gendut tiba-tiba pamit keluar sebentar; yang ternyata dia membelikan oleh-oleh buat kangmasnya, tiga pak rokok cap “dua dewi”. Alhamdulillah.

***

Saat saya duduk di warung sendirian, tiba-tiba anganku melayang pada sebuah kenangan silam, antara saya dan Gendut. Ketika itu saya kelas 1 SMP dan Gendut masih kelas 3 atau 4 SD. Ingat kenangan saya oleh Gendut dibonceng naik sepeda onthek dari Ngayung sampai Pakah. Itu ketika saya akan balik ke Ponorogo, setelah sekian hari liburan lebaran di Ngayung.

Terpaksa naik sepeda onthel, itu karena tak dapat naikan colt atau angkutan pedesaan. Maklum, Tahun 1970-an akhir itu angkutan pedesaan sangat minim yang lewat kampung kelahiran saya. Boleh dikata jarang. Tidak berjejal seperti sekarang. Untuk bisa naik angkutan, saat itu harus nunggu berjam-jam lama, dan ketika lewat distop penumpangnya sudah penuh.

Maka biar sampai ke Pakah dan bisa cepat naik bus, Gendut mengajak saya naik sepeda onthel. Saya dibonceng di belakang, Gendut di depan menggenjot sepeda onthelnya. Krenggosan dan berkeringat terlihat Gendut mengayuh sepeda. Maklum Gendut masih kecil.

Jalan antara Ngayung-Pakah saat itu pun masih makadam. Tentu laju sepeda cukuplah berat, tidak seperti jalan aspal hotmix sekarang, begitu mulus untuk berkendara. Belum lagi jalannya menanjak saat memasuki Tawangrejo. Di tanjakan ini Gendut terpaksa harus turun dari sepedanya karena tak kuwat mancal pedalnya. Sepeda pun dituntun.

Saya pun turun dari boncengan, untuk meringankan Gendut menuntun sepedanya. Apalagi Gendut sampai meler-meler umbelnya. Saya sebagai kangmasnya yang dibonceng pun tidak tega melihatnya. Dan itu dilakukan Gendut demi mengantar kangmasnya sampai ke Pakah untuk cepat naik bus.

Lalu, setelah jalan datar saya baru naik lagi di boncengan dan Gendut menggenjot kembali sepeda onthelnya. Sesampai di Pakah, Gendut tak langsung balik pulang ke Ngayung. Tapi dia ngaso atau istirahat dulu menunggui saya sampai dapat bus jurusan Babat arah menuju Madiun-Ponorogo. Gendut rehat sejenak pun alih-alih untuk mengusir rasa lelah sehabis ngontel dari Ngayung-Pakah.

Aku dan Gendut sejak kecil tinggal serumah. Hidup pun selalu bersama. Makan bareng, mandi pun sering bareng. Tidur pun se-amben. Kruntelan. Ketika bayi umur 2-3 tahun, Gendut sering saya momong dan saya gendong. Itu ketika Buke sedang memasak atau pergi ke pasar.

Gendut balita amat lucu. Berkulit hitam badannya gendut, oleh karena itu dipanggil Gendut. Suka ngowoh kadang ngiler seperti bocah cengoh. Tapi menggemaskan, potongan rambutnya kuncung seperti Bobbo Hoo.

Mbak Min, mbakyuku, sering menggendong dan mencubiti pipinya yang tembem. Gemes. Gendut sering dipanggilnya Sarimo. Sarimo adalah nama seseorang yang bento dari Morosemo, tetangga desa Ngayung. Ketika kecil Gendut memang terlihat cengoh; suka ngowoh, sorot matanya plonga-plongo, dan sering lupa mengancingkan celananya.

Ketika beranjak usia bermain, Gendut kemana saya pergi selalu ikut saya. Bukan hanya soal main, ketika saya dapat tugas dari bapak nunggu jagung dari jarahan monyet, Gendut pun ikut serta menemaniku di tegal kidul Ngayung. Juga berdua (aku dan Gendut) ikut bekerja membantu orang tua, menyiram tembakau dan petik cabai di tegal Pakah, kini dekat kompleks Wonorejo. Atau ketika panen sama-sama pipil jagung.

Semasih kecil saya dan Gendut runtang-runtung. Kompak. Jarang bertengkar. Rukun. Dan aku selalu melindungi adikku ini ke mana bermain. Sebab, Buke dan Bapak (Pak Kandar) selalu meminta untuk menjaganya.

Begitu rukunnya saya dan Gendut mencipta orang hazad atau tak suka. “Heeh..dulur asu, kok rukun ngene kowe cung. Runtang-runtung koyo asu tenan kowe,” ucap Lek Rukatam dan Lik Nik, tetangga sebelah rumah yang suka nyinyir. Dan olok-olok itu sering dilakukannya.

Dulur Asu artinya tunggal menyusu atau sepersusuan. Se-ibu. Saya dan Gendut memang beda bapak. Meski begitu, Buke dan Make tidak mengajarkan perbedaan. Oleh karena itu, saya dan Gendut rukun. Meskipun “Dulur Asu” tapi fine-fine saja. Dari dulu sampai sekarang. Insya Allah.

Kebersamaan saya dan Gendut itu cuma sebatas SD. Karena saya dan Gendut harus berpisah. Begitu lulus SD, saya harus ke Ponorogo ikut Om So (Pak Lik)–melanjutkan sekolah (SMP). Perpisahan ini pun mencipta rasa haru dan sedih. Selain harus berpisah dengan Gendut, juga berpisah dengan orang-orang yang saya cintai; Buke, Make, Mbak Min, Prapti, dan Pak Kandar.

Sebetulnya, dalam hati saya berat untuk meninggalkan mereka. Tapi, Make bersikukuh menitipkan saya ke Omso, adik almarhum bapak kandung saya (Suyadi)–untuk melanjutkan sekolah. Harapan besar Make agar kelak saya memiliki masa depan yang lebih baik.

“Nek kowe ning Ngayung wae, kowe arep dadi opo cung. Dadi cah angon, tukang ngarit, opo tukang macul. Kowe ora duwe bapak, Make lan ibukmu ora iso ngragati koe nglanjutne sekolah. Om So kae iso dadi guru, iku mbiyen sing ngragati sekolahe bapakmu. Saiki gantian dekne sing nyekolahno kowe cung,” jelas Make kepadaku menjelang kelulusan SD.

“Wis to Mak, Siwot sak dadi-dadine wong mbisuke. Ben ning kene wae. Siwot ben mondok ning Langitan utowo mondok ning Tuban cedek mbahane. Ora usah adoh-adoh ning Ponorogo, ben aku lan sampean iso sering ngendangi Siwot,” pinta Buke kepada Make.

“Siwot iku bocah yatim, umur wolung ulan wis ditinggal bapake. Kok malah saiki arep diadohno teko awakke dewe. Ponorogo iku ora cedek, awake dewe ora iso sering ngendangi. Sik So iku wonge kereng. Sik Pin (Mbak Pin) wae ora kuat melu sik So, lha iki Siwot sing ringkih awake kok arep dielokne Sik So. Ojo Mak ojo, mesake Siwot,” pinta Buke lagi.

Makke tetap kekeh saya harus berangkat ke Ponorogo untuk melanjutkan sekolah umum. “Nek mondok, engko mung dadi tukang ndongani wong slametan, lan paling mentok dadi modin. Aku pengin Siwot dadi guru, syukur-syukur dadi kepala sekolah koyo bapake,” kata Make tegas.

Dialog Make dan Buke pada sebuah sore itu saya dengar. Dalam hati, saya sepakat dengan usulan Buke. Tapi, saya yang masih anak tak berdaya ketika Omso benar-benar datang dan mengajakku ke Ponorogo. Ketika itu aku hanya bisa sedih berpisah dengan orang-orang yang saya cintai dan hidup serumah selama ini. Tapi, saya harus menerima kodrat itu. Ikut Omso ke Ponorogo.

Maka, setelah setahun ikut Om So, saya nekad pulang ke Tuban (Ngayung) untuk bertemu dengan orang-orang yang saya cintai; Make, Buke, Mbak Min, Gendut, Prapti, dan Pak Kandar. Nekad, karena saat itu saya masih kelas 1 SMP. Usia yang saat itu belum layak bepergian jauh sendirian.

Juga tak punya cukup ongkos pulang pergi naik bus atau angkutan dari Ponorogo-Tuban.
Boleh dikata cuma punya ongkos perginya saja. Baliknya, mengharap sangu atau pemberian dari Mbak Min, Buke, Make, Lek Jid atau Bude Tas dan Lek Nik. Saya pulang setahun sekali bertepatan dengan libur Lebaran.

Pulang kampung dan bertemu keluarga yang kita cintai memang sungguh mencipta rasa bahagia dan menyenangkan. Tapi manisnya hidup bersama Buke, Make, Gendut dan Prapti itu hanya seumur liburan. Sebab, saya harus balik lagi ke Ponorogo untuk kembali sekolah.

***

Entah, tadi pagi ketika hendak balik ke Madiun saya jadi teringat kenangan itu. Hatiku diselimuti keharuan. Terlebih ketika berpisah dengan Gendut. Dulu ketika aku sudah naik bus, adikku Gendut masih diam di bawah melihati saya yang sudah duduk di atas bus sembari memegangi sepeda onthelnya. Seperti tak ingin terjadi perpisahan. Saya pun demikian, melihati sampai bus yang saya tumpangi berjalan hingga tak terlihat lagi tubuh Gendut.

Tapi, tadi pagi Gendut sudah pergi sebelum saya naik kereta. Hidup memang berpola, tapi momen kadang berbeda. Saya pun tersenyum sendiri ketika kereta sudah menggelinding menuju Madiun. Ingat adikku, Gendut, bocah sing ijazahe mung “godong klaras” kok jebule pikirane “waras”. Kecilnya dulu seperti Sarimo, eh kini seperti Saridin. Saya pun tersenyum; kini naik kereta berasa naik sepeda onthel dibonceng Gendut. (**)

*Penulis adalah mantan wartawan dan Kabiro Harian Republika Jawa Timur*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *