CB, TULUNGAGUNG – Di tengah keterbatasan, guru-guru di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar berinovasi dalam mengatasi kendala pendidikan, dan mereka tetap dengan penuh dedikasi, mereka tetap melayani anak-anak agar dapat belajar.

Para guru tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang minim dari sentuhan pelatihan dan informasi terkini tentang metodologi pendidikan, mereka iniberupaya keras agar mampu mengatasi kendala pembelajaran. Mereka, memastikan, anak-anak daerah 3T menguasai kemampuan dasar membaca, menulis, dan menghitung, serta menyalakan mimpi dan cita-cita tinggi muda untuk berani menembus keterbatasan.
Dari tentang kondisi pendidikan di daerah 3T, khususnya di Kabupaten Tulungagung ada tujuh cabang atau tujuh kecamatan yang memiliki daerah 3T. Hal itu yang disampaikan Ketua Panitia Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) di halaman kantor PGRI, Selasa (28/11).
Dan, di tujuh kecamatan sejak pekan lalu hingga hingga sekarang, yakni para guru tetap mampu menghadirkan solusi untuk mengatasi masalah pembelajaran siswa, meskipun dengan cara sederhana. Pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual juga mulai diterapkan guru agar siswa lebih mudah belajar.
“Pada hari ini (Selasa 28/11, red) mereka kita undang secara khusus, untuk mendapatkan apresiasi atas perjuangan selama ini. Karena kita tahu, walaupun jarak tempuh yang sangat jauh dan mereka ditugaskan ditempat sangat ekstrim, tapi karena panggilan jiwa mereka dengan penuh ikhlas mengabdi kepada bangsa dan negara ini dengan mendampingi di sekolah 3T, dengan semangat yang luar biasa,” ucap Ketua Panitia HUT ke-78 PGRI dan HGN, Selasa (28/11).
Sehingga, imbuhnya, bila selama ini mereka (para guru 3T, red) kurang mendapatkan perhatian, dan dalam acara tersebut para guru 3T ini mendapatkan apresiasi. “Maka dipuncak peringatan Hari Guru Nasional 2023 kita undang untuk mendapatkan penghargaan dari PGRI dan Pemerintah Kabupaten Tulungagung,” ungkapnya.
Selain memberi apresiasi dan penghargaan pada tujuh 3T, acara yang mengangkat tema “Transformasi Guru Mewujudkan Indonesia Maju” juga memberi banyak penghargaan kepada para murid dan guru-guru yang berprestasi.
Dalam hal ini, Ketua PGRI Tulungagung Muhadi M.Pd mengatakan, keanggotaan PGRI saat ini mencapai 15.780 guru. Baik guru disekolah swasta ataupun disekolah negeri, baik itu guru ASN atau pula guru honorer. Sesuai tema yang ada, PGRI Tulungagung bersiap untuk melakukan perubahan paradigma guru. Di era yang terus berubah saat ini, tentu guru guru harus pula meningkatkan profesionalesmenya.
“Alhmdulilah, hingga saat ini kekompakan dan kesolidan anggota PGRI sangat luar biasa. Hal ini terlihat dalam setiap kegiatan, suport dan tanggung jawap anggota bersama pengurus selalu berjalan dengan baik,” ujarnya.
Apel hari jadi PGRI itu juga memberikan hadiah bagi para guru dalam 7 kategori perlombaan, mulai dari olahraga, seni sampai keagamaan. Selain itu juga diberikan penghargaan kepada guru yang bertugas dipelosok pelosok daerah yang sulit dijangkau dari bantuan bantuan di Tulungagung.
Dan, tari reog kendang Tulungagung menjadi acara pembuka yang ditampilkan oleh siswa siswi SDN Kampungdalem 1. Apresiasi juga diberikan kepada para guru yang berprestasi diluar dari kategori Yang dilombakan. Selain guru, apresiasi juga diberikan kepada siswa yang berprestasi ditingkat nasional.
“Hadiah yang diberikan bervariatif, mulai dari piala, piagam hingga uang pembinaan,” katannya.
Masih kata Muhadi, keanggotaan guru guru masih ada berkisar 5.000 guru yang belum memiliki nomor pokok anggota meski mereka telah mendaftar menjadi anggota. Namun demikian, karena adanya perubahan sistem maka hal itu masih menjadi kendala.
Sementara itu, hadir dalam puncak acara HUT PGRI dan HGN yakni Ketua DPRD Tulungagung Marsono, Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung Rahadi P Bintara, Tokoh Pendidikan Bambang AS, Perwakilan Pj Bupati Tulungagung, pengurus PGRI Tulungagung Polres dan Dandim Tulungagung, Kepala Sekolah SD hingga SMA serta ratusan undangan. (Hsu)
