CB, TULUNGAGUNG – Kendati belum ada kelulusan dan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Tulungagung dibuka, namun sejumlah calo sudah bergentayangan mencari mangsa. Para terduga calo ini menawarkan jasa masuk ke sekolah favorit bagi para siswa yang hendak lulusan tahun 2024.
Dari hasil infomasi yang dihimpun, modus para calo ini menawarkan jasa memasukkan siswa untuk masuk ke sekolah yang dipilihnya. Setelah itu, mereka tiba-tiba kirim ke WhatsApp jika anaknya lulus dapat daftar ke sekolah yang diinginkan dan tinggal memilih. “Saat itu saya pun kaget,” kata TF ini kepada cahayabaru.id, Jumat (08/03).
TF juga menjelaskan, memang anaknya bakal lulus SLTP dan berencana melanjutkan ke SLTA ini, dan kemudian menanggapi WhatsApp yang ia terima dengan sedikit pura-pura mencari informasi. “Ya saya balas, saya tanya syaratnya apa,” ungkapnya.
Ia juga menceritakan kejadian yang dialaminya itu, awalnya terduga calo ini menjawab dengan normatif bahwa syarat masuk sekolah ini diantaranya dengan jalur zonasi, prestasi afirmasi dan penugasan.
“Jawabannya meyakinkan, sesuai apa yang harus dilakukan. Bahkan juga menjelaskan tentang PPDB online dan offline,” jelasnya.
Ironisnya, lama-lama pengirim WhatsApp ini mengatakan jika ada kesulitan ia berani menjamin bahwa siswa yang ia bawa dipastikan bisa diterima disekolah yang diinginkan. Syaratnya, harus ada uang yang disiapkan oleh orang tua calon siswa baru ini untuk membeli bangku.
“Ujungnya, jika ada kesulitan dapat menggunakan duit agar diterima di sekolah yang dituju, sebagai pelicin,” tuturnya.
Tak tanggung-tanggung, pengirim WhatsApp mencantumkan nominal yang berlaku pada tahun sebelumnya atau tahun 2023 lalu.”Semakin favorit, maka nilainya semakin besar,” katanya.
Kendati tidak menyebut nominal secara pasti, untuk sekolah favorit di Tulungagung dana yang harus disiapkan orang tua mencapai belasan juta rupiah.
“Itu tahun lalu, tahun ini belum dijelaskan berapa. Namun, jaminan bahwa yang titip ini akan diterima telah disampaikan,” bebernya.
Yang TF heran, terduga calo ini begitu meyakinkan dalam memberikan penawaran dan ia curiga dalam prakteknya memang mempunya jaringan ke dalam sekolah.
“Kalau tidak punya jaringan dan memang pernah punya pengalaman dapat memasukkan siswa ke sekolah ini sepertinya tidak mungkin,” ungkap TF
Masih kata TF, jika hal ini benar, ia merasa menyayangkan dan berharap pihak sekolah mampu mengantisipasi modus yang dalam prakteknya bukan hanya isapan jempol atau isu belaka.(Hsu)
