CB, Tulungagung – Personel Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Tulungagung diterjunkan untuk menangani sumbatan sampah di Jembatan Tanjung, Kecamatan Kalidawir—tepatnya di sebelah utara traffic light Desa Tunggangri—pada Kamis (24/7/2025).
Petugas DPUPR bersama warga sekitar bahu-membahu membersihkan tumpukan sampah yang menyumbat lubang jembatan. Tidak tanggung-tanggung, sampah yang berhasil diangkat diperkirakan mencapai 4 ton. Sampah tersebut kemudian dibuang di lahan milik Ketua Gapoktan setempat.
Aksi bersih-bersih ini juga melibatkan mahasiswa UIN SATU Tulungagung yang tengah menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah tersebut, serta perangkat Desa Tanjung.
Plt Kepala DPUPR Tulungagung, Agus Sulistiono, ST, MT, mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Ia menegaskan, sampah menjadi salah satu penyebab utama banjir di wilayah tersebut.
“Kami minta masyarakat lebih sadar. Sampah masih menjadi penyebab utama banjir. Jangan buang sampah sembarangan, dan lakukan normalisasi saluran air di sekitar rumah maupun lingkungan secara berkala,” ujar Agus.
Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya masih terus melakukan pembersihan hingga aliran air di lokasi kembali normal dan bebas dari sampah.
Sementara itu, Nur Hasim—penggiat lingkungan dari komunitas Tulungagung Explorer yang turut serta dalam kegiatan tersebut—menyoroti permasalahan umum yang terjadi di sungai-sungai irigasi di Tulungagung, yaitu masalah sampah dan pendangkalan.
Menurutnya, endapan lumpur menyebabkan pertumbuhan liar tanaman seperti kangkung dan eceng gondok. Ia menyebut, kurangnya normalisasi sungai telah memicu banjir di beberapa wilayah kota, seperti di kawasan Jepun dan Bago.
“Contoh nyata dampaknya adalah banjir dalam kota yang sering terjadi di Jepun dan Bago. Ini karena minimnya normalisasi saluran pembuangan air,” ujar Hasim yang juga menjabat sebagai Ketua RT/RW 01 Desa Tanjung.
Ia menambahkan, Jembatan Patah Junjung juga mengalami kerusakan akibat penyumbatan tanaman liar seperti eceng gondok, sampah, dan sedimentasi lumpur.
Tulungagung Explorer berharap ke depan ada sinergi antara pemerintah desa dengan komunitas dan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai. Hasim mengusulkan adanya agenda bersih-bersih sungai secara rutin setiap bulan, yang bisa melibatkan berbagai elemen masyarakat sekaligus meringankan beban anggaran pemerintah.(tim)
