CB, TULUNGAGUNG – Mengetahui sejarah sangatlah penting karena memberikan pelajaran berharga dan inspirasi untuk masa depan. Sejarah membantu kita memahami identitas diri dan masyarakat, serta melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis. Ia menjadi panduan dalam menghadapi tantangan masa kini dan mendatang, sekaligus membentuk karakter dan menumbuhkan kesadaran sosial.
Dengan mempelajari sejarah, kita dapat belajar dari pengalaman, baik keberhasilan maupun kegagalan, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sejarah memberikan ibrah—pelajaran moral—dari kejadian serta perjuangan yang pernah terjadi, sehingga kita bisa bersikap lebih bijak dalam mengambil keputusan di masa sekarang.
Selain itu, kisah-kisah perjuangan dan pencapaian para tokoh sejarah dapat membangkitkan semangat serta menginspirasi individu maupun bangsa untuk terus maju, berinovasi, dan menjadi lebih baik.
Dan ini sejarah singkat tentang Tulungagung:
1. Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar
2. Kanjeng Pangeran Haryo Kusumo Yudho alias Pangeran Joko Hadiyosodiningrat
3. Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat (Bupati Ngrowo ke IV)
4. Raden Mas Tumenggung Adipati Jayaningrat (Bupati Ngrowo ke V)
5. Raden Mas Djayengkusuomo
6. R.M.A. Sumodiningrat (Bupati Ngrowo ke VI)
7. R.M.T. Gondokusumo (Bupati Ngrowo ke VIII)
8. R.T. Sumodirjo (Bupati Ngrowo ke IX)
9. Raden Mas Tumenggung Pringgokusumo (Bupati Ngrowo ke X)
10. Raden Pangeran Adipati Arya Sosrodiningrat (Bupati Ngrowo ke XIII)
*Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar: Pelopor Penyebaran Islam di Kadipaten Ngrowo (Tulungagung)*
Pada abad ke-16 hingga 17, Kadipaten Ngrowo (sekarang Tulungagung) mengalami masa transisi agama dari Hindu ke Islam. Meskipun banyak penduduk yang memeluk Islam, ajaran Islam masih tercampur dengan tradisi Hindu, seperti dalam pernikahan, upacara adat, dan penghormatan terhadap arwah.
Dalam konteks ini, muncul Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar, yang diberi tugas oleh Adipati Ngrowo I untuk menegakkan syariat Islam. Tugas ini didokumentasikan dalam surat kekancingan tertanggal 16 Rabi’ul Akhir 1727 M, yang memberikan kewenangan penuh pada Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar untuk menyelenggarakan pernikahan, hukum waris, dan ajaran agama Islam di wilayah tersebut. Setelah beliau wafat, kepemimpinan ini diteruskan secara turun-temurun oleh keturunannya.
Perdikan Majan, yang dikelola oleh Kyai Ageng Raden Khasan Mimbar, diakui oleh pemerintah Belanda dan bahkan dibebaskan dari pajak pada tahun 1912. Perdikan Majan tetap eksis hingga dihapus pada tahun 1979.
*Kanjeng Pangeran Haryo Kusumo Yudho: Patih Kraton Jogjakarta*
Kanjeng Pangeran Haryo Kusumo Yudho (nama kecil: Pangeran Joko Hadiyosodiningrat) adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Kraton Jogjakarta. Beliau menjabat sebagai Patih Danurejo III dari 1813 hingga 1847, menggantikan posisi ayahnya, Kyai Tumenggung Kusumoyudo. Selain itu, beliau juga dikenal dengan nama Sumodipuro dan Raden Joyosentiko.
Sebagai patih, Kanjeng Pangeran Haryo Kusumo Yudho memainkan peran penting dalam pemerintahan Kraton Jogjakarta. Ia menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu Sasi, putri Sri Sultan Hamengkubuwono II, dan merupakan ayah dari Gusti Kanjeng Ratu Kencono Wulan, yang kemudian menjadi istri Sri Sultan Hamengkubuwono IV.
*Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat: Bupati Ngrowo ke IV*
Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat menjabat sebagai Bupati Ngrowo (Tulungagung) ke IV dari tahun 1824 hingga 1830. Ia adalah menantu Sri Sultan Hamengkubuwono II dan membawa pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas ke Ngrowo. Kakek buyutnya, Pangeran Notokusumo, adalah Patih Kartasura yang terlibat dalam peristiwa “Geger Pacinan” pada abad ke-18, yang kemudian diangkat sebagai Patih oleh Sri Sultan HB I setelah diasingkan ke Selong.
*Raden Mas Tumenggung Adipati Jayaningrat: Bupati Ngrowo ke V*
Raden Mas Tumenggung Adipati Jayaningrat menggantikan ayahnya sebagai Bupati Ngrowo ke V. Sejarahnya tak bisa dilepaskan dari peperangan “Geger Pacinan,” yang mengakibatkan banyak perubahan dalam struktur kepemimpinan Jawa pada masa itu. Ia dikenal sebagai menantu dari Patih Danurejo III dan memainkan peran penting dalam pemerintahan di Ngrowo.
*Raden Mas Djayengkusuomo: Pejabat Wedana yang Dihukum oleh Belanda*
Raden Mas Djayengkusuomo, putra dari Bupati Ngrowo ke V, R.M.T. Djajaningrat, menjabat sebagai pejabat Wedana di Srengat. Ia terlibat dalam insiden yang melibatkan serdadu Belanda dan dihukum oleh pengadilan Hindia Belanda, meskipun para pekerja pribumi bersaksi bahwa ia tidak bersalah. Ia dihukum buang dan diasingkan ke daerah pegunungan, yang kemudian dikenal dengan nama Desa Demuk.
*R.M.A. Sumodiningrat: Bupati Ngrowo ke VI*
Setelah Raden Mas Tumenggung Adipati Jayaningrat, kepemimpinan Bupati Ngrowo dilanjutkan oleh menantunya, R.M.A. Sumodiningrat, yang menjadi Bupati Ngrowo ke VI. Ia melanjutkan pemerintahan keluarga dalam mengelola wilayah Kadipaten Ngrowo.
*R.M.T. Gondokusumo: Bupati Ngrowo ke VIII*
R.M.T. Gondokusumo menggantikan ayahnya, R.M.A. Sumodiningrat, sebagai Bupati Ngrowo ke VIII. Ia melanjutkan tradisi kepemimpinan keluarga dalam mengelola wilayah ini.
*R.T. Sumodirjo: Bupati Ngrowo ke IX*
R.T. Sumodirjo, putra dari R.M.T. Gondokusumo, menjabat sebagai Bupati Ngrowo ke IX. Pada tahun 1882, ia dipindahkan ke Sidoarjo, dan jabatan Bupati Ngrowo ke X dipegang oleh R.M.T. Pringgokusumo.
*Raden Mas Tumenggung Pringgokusumo: Bupati Ngrowo ke X*
Raden Mas Tumenggung Pringgokusumo menggantikan ayahnya, R.M.T. Gondokusumo, sebagai Bupati Ngrowo ke X. Ia menikah dengan Raden Roro Murtiningrum, putri ke-7 dari Kyai H. Raden Tafsir Anaom, yang merupakan keturunan Kyai Ageng Khasan Mimbar. Dari pernikahan ini lahirlah R.P.A. Sosrodiningrat, yang nantinya menjadi Bupati Ngrowo ke XIII.
*Raden Pangeran Adipati Arya Sosrodiningrat: Bupati Ngrowo ke XIII*
Raden Pangeran Adipati Arya Sosrodiningrat, atau RPA Sosrodiningrat, menjabat sebagai Bupati Ngrowo (Tulungagung) ke XIII dari 1907 hingga 1943. Ia dikenal sebagai bupati yang paling lama menjabat dan memimpin selama masa penjajahan Belanda.
“Beberapa informasi lebih lanjut mengenai tokoh-tokoh ini dapat ditemukan dalam arsip sejarah, termasuk peran mereka dalam perkembangan sejarah Kraton Jogjakarta dan pengaruhnya di Kadipaten Ngrowo,” kata R. Ali Sodik pada media ini.(tim)
