Transparasi Seleksi Perangkat Desa Dipertanyakan, Panitia Klaim Hindari Intervensi

CB, TULUNGAGUNG – Penjaringan perangkat Desa Rejotangan, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, diduga tidak berjalan transparan. Pasalnya, seleksi yang rencananya bakal digelar pada 15 Desember 2025 dinilai jauh dari prinsip keterbukaan.

Akibatnya, sejumlah peserta mengaku resah sejak tahapan awal. Mereka, menilai, panitia tidak memberikan informasi memadai mengenai asal-usul tim pembuat soal yang digandeng pihak desa.

Sehingga, minimnya informasi tersebut memunculkan dugaan adanya ketertutupan dalam proses seleksi.

Beberapa peserta juga merasa janggal karena perguruan tinggi yang disebut akan dilibatkan tidak pernah disebutkan secara jelas sejak pendaftaran dibuka.

Padahal, proses penjaringan perangkat desa dianggap harus mengedepankan transparansi mengingat posisi yang diperebutkan bersifat strategis.

“Kenapa perguruan tinggi yang diajak kerja sama membuat soal tidak diungkapkan? Jangan-jangan ada permainan,” ujar salah satu peserta yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Menurut peserta lain, kejanggalan-kejanggalan semacam itu berpotensi menurunkan kepercayaan publik. Tingginya partisipasi masyarakat dalam penjaringan perangkat desa dapat tercoreng jika panitia tidak menunjukkan komitmen penuh terhadap akuntabilitas.

Kabar miring mulai beredar di masyarakat, di antaranya menyebut adanya dua sosok yang diduga bakal lolos karena memiliki kedekatan dengan oknum tertentu.

Meski belum terbukti, rumor tersebut cukup memanaskan suasana hingga membuat satu peserta memutuskan mundur.

“Ada satu peserta yang menyatakan mundur, dari 31 pendaftar kini tinggal 30,” kata Ketua Panitia, Azhari, Jumat (12/12/25).

Menanggapi berbagai dugaan tersebut, Azhari menegaskan bahwa identitas perguruan tinggi yang dilibatkan sengaja dirahasiakan hingga hari pelaksanaan.

Azhari memastikan kebijakan itu bukan untuk menutupi informasi, melainkan untuk mencegah adanya intervensi pihak luar.

Panitia, lanjutnya, khawatir tim pembuat soal dapat didatangi atau dilobi oleh oknum tertentu jika identitasnya diungkap terlalu awal.

“Justru kami ingin menjaga netralitas. Kalau diumumkan sekarang, bisa saja ada pihak yang mencoba mempengaruhi tim penguji,” ungkap Azhari, yang mengaku memiliki latar belakang jurnalis.

Ia menambahkan, pengalaman dari daerah lain menunjukkan bahwa tim penguji kerap mendapat tekanan menjelang ujian.

Karena itu, panitia di Desa Rejotangan memilih langkah preventif demi keamanan dan integritas seleksi.

“Bahkan panitia lain belum tahu. Kerahasiaan ini untuk menutup sekecil apa pun kemungkinan kebocoran,” katanya.

Disinggung soal adanya “dua nama titipan”, Azhari menegaskan bahwa dirinya mempertaruhkan kredibilitas untuk menjaga integritas penjaringan.

“Tolong bantu saya melakukan perubahan, karena saya berjuang untuk menuju sesuatu yang lebih baik,” ujarnya.

Namun demikian, para peserta tetap berharap panitia mengedepankan keterbukaan agar tidak menyisakan kecurigaan.

Bahkan, mereka meminta seluruh proses, yakni mulai dari penyusunan soal hingga penilaian akhir, disampaikan secara terang agar hasil seleksi benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
(tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *