CB, TULUNGAGUNG – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GRIB Jaya Kabupaten Tulungagung belum lama ini menggelar kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama di Balai Desa Jarakan, Kecamatan Gondang.
Namun, kegiatan sosial tersebut diterpa isu miring berupa dugaan framing negatif oleh oknum tertentu.
Diduga, framing tersebut berkaitan dengan persoalan pribadi terhadap kepala desa setempat, sehingga memicu pro dan kontra di tengah masyarakat yang berpotensi menimbulkan gesekan.
Padahal, kegiatan sosial yang digelar pada bulan Ramadan itu berlangsung kondusif. Acara tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, jajaran Forkopimcam, serta tokoh masyarakat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, narasi negatif diduga sengaja digiring melalui media sosial untuk menyudutkan pihak penyelenggara maupun pemerintah desa.
Sejumlah unggahan di grup Facebook Wong Tulungagung (WT), serta di grup Karang Taruna Jarakan (KTJ), melalui beberapa akun seperti Budi Uklik, Ngadimin KT, dan Santoso Multi Sport, diduga turut memperkeruh suasana dengan konten provokatif.
Oknum-oknum tersebut diduga berupaya membenturkan Ormas GRIB Jaya dengan organisasi silat dan masyarakat luas, khususnya di wilayah Tulungagung.
Menanggapi hal itu, Ketua DPC GRIB Jaya Tulungagung, Hariyanto, menyayangkan adanya upaya pembelokan opini publik.
Ia menegaskan bahwa kehadiran GRIB Jaya di Desa Jarakan murni untuk menjalankan agenda sosial organisasi.
“Kami datang dengan niat tulus untuk berbagi dan memperkuat sinergi. Sangat disayangkan jika ada pihak yang mencoba mempolitisasi kegiatan sosial ini hanya karena kepentingan atau dendam pribadi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan sejumlah tokoh masyarakat. Mereka menilai kegiatan tersebut berjalan lancar, tertib, dan penuh kehangatan, berbeda dengan narasi yang beredar di media sosial.
“Setahu saya, acara itu berlangsung guyub rukun dan tertib. Masyarakat juga senang, apalagi dihadiri langsung oleh Wakil Bupati,” ungkap salah satu tokoh masyarakat.
Ia pun menegaskan bahwa kegiatan tersebut murni bersifat sosial sekaligus sebagai ajang pengenalan GRIB Jaya di Tulungagung.
“Kalau ada yang menyebut ini kegiatan negatif, itu jelas framing yang tidak sesuai fakta di lapangan,” tambahnya.
Sementara itu, Ahmad Baharudin yang juga didapuk sebagai Dewan Pembina GRIB Jaya sebelumnya menegaskan bahwa organisasi kemasyarakatan harus menjadi instrumen pemerintah dalam menciptakan rasa aman dan nyaman.
Ia menilai, upaya provokasi semacam ini justru kontraproduktif terhadap semangat persatuan yang tengah dibangun di Tulungagung.
Menyikapi kerugian materiil maupun immateriil akibat serangan digital tersebut, Ketua DPC GRIB Jaya Tulungagung bersama LBH GRIB Jaya menegaskan tidak akan tinggal diam dan berencana menempuh jalur hukum.
“Sebagai pihak yang dirugikan, kami akan membawa persoalan ini ke ranah hukum sesuai peraturan yang berlaku agar menjadi pelajaran bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegas Hariyanto.
Hingga saat ini, GRIB Jaya Tulungagung menyatakan tetap berkomitmen menjalankan kegiatan sosial serta mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.(tim)
