Wayang Kulit “Brubuh Ngalengka” Tutup Bulan Suro 2026, Agus Timur: Pemimpin Harus Teges, Tegas, dan Mengayomi

CB, TULUNGAGUNG – Penutupan Bulan Suro 2026 ditandai dengan pagelaran wayang kulit lakon Brubuh Ngalengka yang digelar oleh praktisi spiritual asal Dusun Boneng, Desa Sidorejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Agus Timur. Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud rasa syukur sekaligus penutup rangkaian laku spiritual selama Bulan Suro.

Bulan Suro 2026 berakhir pada Kamis (16/7/2026), sekaligus menjadi masa transisi menuju awal Bulan Safar pada hari berikutnya. Dalam tradisi masyarakat Jawa, akhir Bulan Suro memiliki makna sebagai penanda berakhirnya masa tirakat dan penyucian diri yang dijalani selama sebulan penuh.

Pada pagelaran tahun ini, Agus Timur menghadirkan tiga dalang, yakni Ki Minto Darsono, Ki Thatit Wibat Sudarsono, dan Ki Heru Rahadi. Ketiganya membawakan lakon Brubuh Ngalengka, kisah puncak peperangan dalam epos Ramayana yang menceritakan kehancuran Kerajaan Ngalengka setelah pasukan Prabu Rama berhasil menaklukkan Prabu Dasamuka atau Rahwana.

“Ini merupakan bentuk rasa syukur. Bersyukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan. Rasa syukur berarti legawa, lilo, dan narima atas segala anugerah yang diberikan Sang Pencipta,” ujar Agus Timur disela-sela acara, Rabu (15/7/2026).

Menurutnya, kata brubuh berarti hancur lebur, sedangkan Ngalengka merupakan kerajaan para raksasa. Di balik kisah tersebut, tersimpan pesan moral yang masih relevan dengan kehidupan, terutama mengenai kepemimpinan.

Agus Timur menjelaskan, seorang pemimpin harus memiliki sifat teges dan tegas. Teges dimaknai sebagai sosok yang mampu menjadi guru bagi rakyat maupun bawahannya melalui ilmu, wawasan, dan keteladanan.

“Kalau seorang guru tidak memiliki kepandaian, lalu apa yang akan dia ajarkan kepada orang lain,” katanya.
Sementara itu, sifat tegas berarti mampu bersikap adil tanpa membeda-bedakan atau pilih kasih. Seorang pemimpin juga harus memiliki jiwa pengayom yang mampu memberikan teladan dan melindungi masyarakat.

“Pemimpin harus bisa menjadi contoh serta mengayomi rakyatnya, bukan justru meminta untuk diayomi,” tegas Agus Timur.

Pagelaran wayang kulit penutup Bulan Suro tersebut juga dihadiri para praktisi spiritual dari berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Solo, Surabaya, Jombang, Blitar, Kediri, serta sejumlah praktisi spiritual dari Kabupaten Tulungagung.(Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *