Nurseno SP Utomo, “Raja Jagung”

CB, SURABAYA –  ALAM Garut Selatan, Jawa Barat, khususnya kawasan Kecamatan Pakenjeng, yang amat subur, memang sangat menggelitik bagi para pebisnis agro industri.  Itu pula yang membuat Guru Besar Paguron Syah Bandar Karimadi, Nurseno SP Utomo, akhirnya tertarik mengembangkan bisnis pertanian.

Sejak pertengahan tahun 2017 lalu, Nurseno yang selama ini menggeluti bisnisnya di ibu kota bahkan luar negeri, mulai membuka lahan perkebunan jagung pipil varietas unggul di Kampung Cimareme, Desa Tegal Gede, Kecamatan Pakenjeng. Tak tanggung-tanggung, saat ini ia sudah membuka lahan perkebunan seluas 300 ha.

“Ya…, ini sih iseng-iseng aja. Soalnya di sini kan banyak lahan perkebunan (PT Condong) yang terlantar. Sekalian untuk menindaklanjuti bantuan benih dari pemerintah. Jadi sayang kalau tidak dimanfaatkan,” tutur Nurseno, Selasa (6/3/18).

Selain itu, Nurseno mengaku prihatin, karena selama ini kemampuan ekonomi masyarakat di Tegal Gede terbilang rendah. Penyebabnya, pasca musim paceklik tahun lalu, tidak ada pekerjaan yang menjanjikan bagi mereka.

Berkat usaha yang dirintisnya itu, kini hampir setengah warga Tegal Gede yang berjumlah sekira 4600 warga, ikut terlibat pengelola perkebunan yang dilakukan lewat pola kerja sama dengan masyarakat setempat.

“Alhamdulillah, ternyata warga sangat antusias dengan program pengembangan usaha masyarakat yang saya rintis ini,” papar Nurseno.

Hingga kini, kata Nurseno, ia sudah dua kali panen. Pada penanaman pertama, kapasitas produksi per hektar memang hanya sanggup mencapai 6 ton. Tetapi, pada penanaman kedua, kapasitas produksinya meningkat 50 %, menjadi 9 ton/ha. Artinya, setidaknya kapasitas produksi mencapai 2,700 ton.

“Penambahan hasil panen kedua ini ditunjang oleh pola tanam antarpohon yang dipersempit. Pemupukan yang sempurna, dan cuaca (curah hujan) yang mendukung,” terangnya.

Namun, di satu sisi, Nurseno mengaku masih mendapat kendala. Menyangkut pemasaran hasil panen dan harga jual yang rendah. Hal ini, kata Nurseno, salah satunya akibat kondisi infrastruktur jalan sangat buruk.

Guna menyiasati hal tersebut, Nurseno coba melakukan inovasi pascapanen. Rencananya, sebagian hasil paroduksi tidak langsung dijual ke pasar bebas. Ia sedang mencoba membuat tepung milk jagung untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak siap saji.

“Penawaran pemanfaatan hasil produk milk sedang kami lakukan ke beberapa perusahaan lokal di Garut,” katanya.

Namun begitu, Nurseno dan warga setempat tetap berharap, ke depan Pemkab Garut bisa memperhatikan masalah infrastruktur jalan di wilayah Pakenjeng. Pasalnya, itulah penyebab cost produksi menjadi tinggi. Selama ini, banyak warga yang akhirnya tidak mau memanen hasil pertaniannya, karena selisih ongkos angkut dan harga jual yang tidak seimbang.

“Dan bila memang Pemkab peduli kepada nasib para petani. Ya, carikan lah mereka bapak angkat untuk menyokong permodalan. Pemerintah juga harus berperan dalam mengatur harga jual komoditas pertanian, agar para petani benar-benar bisa menikmati hasil jerih payahnya,” kritik Nurseno. (budi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *