CB, Pati – Saat ini ada yang baru dari Litbang Pertanian untuk “Petani Zaman Now” yaitu penggunaan smartphone berbasis android dalam identifikasi calon lokasi embung dan bangunan penampungan air lainnya sebagai salah satu pengembangan infrastuktur pertanian.
Untuk kebutuhan para petani di lapangan, Focus Group Discussion ( FGD) tata kelola infrastruktur pertanian yang diprakarsai oleh Staf Ahli Bidang Infrastruktur Pertanian bekerjasama dengan Badan Litbang Pertanian telah membuatkan program khusus berupa peta indikasi. “Peta ini yang memudahkan mengidentifikasi calon lokasi embung dan bangunan penampungan air bagi pertanian” ujar Budi Kartiwa, peneliti dari Badan Litbang pertanian Kementerian Pertanian.
“Infrastruktur pertanian seperti embung, long storage, dan dam parit dapat kita temukan titik lokasinya dengan menggunakan aplikasi ini” tambah Budi.
Hal tersebut ia sampaikan pada acara lanjutan dari FGD tatakelola infrastruktur pertanian, Jumat 23 Maret 2018 di Pati, Jawa Tengah.
Pada kesempatan tersebut ia menjelaskan bahwa peta indikasi merupakan peta yang mempunyai geo referensi yang dapat dibuka menggunakan aplikasi “avenza map” yang dapat di download di Play Store.
Ini sebagai bukti bahwa Kementan telah memanfaatkan teknologi IT untuk kemudahan mencari titik lokasi pembuatan embung yang lebih presisi.
“Nantinya saat mencari titik lokasi, prosesnya akan semudah kita menggunakan google map ketika kita mencari jalan” ujarnya menegaskan.
Adang Hamdani yang juga peneliti dari Litbang pertanian menambahkan, “dengan aplikasi ini dapat dilihat titik calon embung / long storage / dam parit lokasinya seperti apa, dimana, kondisi airnya seperti apa, tanpa harus datang langsung ke lokasi berputar putar mencari, lebih menghemat waktu dan tenaga karena semua dapat dilihat bisa dengan menggunakan satelit” ujarnya.
Ini akan memudahkan pula bagi “Tenaga ahli pendamping desa nantinya dalam mencari lokasi-lokasi yang berpotensi untuk membangun embung yang tepat” ujarnya lebih lanjut.
“Yang dibuat dalam peta tersebut adalah sebaran indikatif peta-peta lahan yang berpotensi untuk dikembangkan dari lahan yang tadinya hanya 1 kali tanam dalam setahun menjadi 2 sampai dengan 3 kali tanam dalam setahun” tambahnya.
Harapannya, dari teknologi penggunaan peta indikasi, tenaga lapangan di desa dapat menggunakan sebagai “tools” yang bermanfaat untuk membantu para petani.
Kerja bareng Staf Ahli Bidang Infrastruktur Pertanian dan Tenaga Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Pertanian, dengan Tim Litbang Pertanian bukan kali pertama dilakukan namun secara khusus kali ini menindaklanjuti Inpres no.1/2018 , merumuskan metode praktis dalam menetapkan lokasi embung dengan memanfaatkan smartphone yang merupakan teknologi yang digandrungi anak muda zaman now. Harapannya, pemdamping desa akan semakin bergiat menyesuaikannya. (Ertin Primawati)
