CB, TANAHBUMBU – Siswa – siswi yang berangkat ke sekolah di dasari oleh beraneka ragam motivasi. Mulai dari keinginan mereka untuk belajar, bertemu teman, memamerkan barang baru, ngobrol, membicarakan tugas guru yang belum selesai dan masih banyak lagi yang mereka lakukan untuk menghabiskan jam sekolah.
Sering kita amati saat proses belajar mengajar berlangsung, kurangnya semangat siswa akan membuat suasana kelas kurang kondusif. Kegiatan belajar mengajar yang sudah dirancang sedemikian rupa tidak bisa berjalan dengan efektif karena tidak adanya keaktifan siswa. Materi pelajaran yang disampaikan oleh guru pun tidak bisa diserap oleh siswa karena kurangnya respon dari siswa untuk menerima pelajaran.
Memasuki jam siang pelajaran banyak siswa yang semangat belajarnya mulai menurun. Ini terlihat ketika mereka kelelahan sehabis olahraga, ada yang mengantuk, atau bahkan siswa yang duduk di kursi paling belakang berbicara sendiri dengan temannya. Kebosanan pun menjadi salah satu indikasi rendahnya motivasi diri siswa.
Motivasi menjadi salah satu kunci utama agar kelas kembali kondusif. Motivasi belajar merupakan dorongan untuk melakukan kegiatan belajar dengan sepenuh hati. Bagi siswa, motivasi itu diibaratkan bahan bakar sebuah Kendaraan. Tidak akan berarti betapapun bagusnya merek dan canggihnya sebuah kendaraan kalau tidak memiliki bahan bakar. Bahan bakar menjadi unsur vital bagi sebuah kendaraan. Begitu pula halnya dengan motivasi bagi siswa untuk belajar. Motivasi inilah yang menggerakkan mereka untuk belajar.
Mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang dihajatkan dalam Undang – Undang Dasar 1945 merupakan tujuan semua para pendidik. Akan tetapi hal ini berbanding terbalik dengan keadaan yang sesungguhnya dan tentunya membuat miris hati para pendidik serta jelas akan merugikan siswa.
Dikutip dari artikel Nadhirin, kelangsungan dan keberhasilan proses belajar mengajar bukan hanya dipengaruhi oleh faktor intelektual saja, melainkan juga oleh faktor-faktor nonintelektual lain yang tidak kalah penting dalam menentukan hasil belajar seseorang, salah satunya adalah kemampuan seorang siswa untuk memotivasi dirinya. Mengutip pendapat Daniel Goleman (2004: 44), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama.
Salah satu titik yang harus diperhatikan para guru adalah bagaimana cara membangkitkan kembali semangat belajar siswa agar tujuan pembelajaran sesungguhnya akan terwujud sesuai dengan yang direncanakan. Ini perlu tindakan nyata. Kita para pendidik bahkan perlu mempunyai trik – trik tertentu untuk membangun motivasi siswa.
Banyak cara agar motivasi siswa terbangkit ketika proses belajar mengajar. Salah satu diantaranya adalah membagi siswa dalam kelompok belajar dan memberikan beberapa tugas dengan batasan waktu yang ditentukan. Mengelompokkan mereka yang terlihat kurang semangat belajarnya dengan siswa yang antusias, aktif dan mempunyai semangat tinggi dimaksudkan agar siswa yang pasif juga akan menjadi semangat saat proses belajar mengajar berlangsung.
Para pendidik juga harus menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan dengan sedikit humor dan metode pembelajaran yang tidak monoton. Suasana akan menjadi ramai apabila salah satu diantara mereka menjadi bahan pembicaraan. Trending topik yang hangat dibicarakan di sosial media dengan mengajak mereka menjadi narasumber saat di kelas juga mampu membangun semangat mereka. Tentunya setelah itu akan kita kaitkan dengan pelajaran apa yang sedang dibahas saat itu.
Mengemas suatu pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan merupakan salah satu alternatif bagi guru untuk meningkatkan kualitasnya dalam mendidik para peserta didik. Menggunakan media dan alat pembelajaran yang canggih dan menarik akan menjadi daya tarik siswa untuk lebih bersemangat.
Adapun hal yang harus dilakukan oleh orang tua adalah dengan memperhatikan mereka setiap hari dengan menanyakan aktivitas di sekolah. Dengan mengajak anak bercerita, akan menanamkan ke jiwa anak bahwa sekolah merupakan tempat yang menyenangkan. Mengajak mereka bercerita juga membuat daya ingat cukup bagus dan membuat anak memiliki hobi bercerita. Hal ini bisa menumbuhkan bakat anak yang dapat membuat mereka menjadi anak yang percaya diri dan tidak minder.
Sugesti positif yang diberikan orang tua diyakini mampu memberikan pikiran positif anak terhadap belajar. Dengan anak mengetahui manfaat belajar mereka tentunya dapat memahami arti belajar sesungguhnya yang sebelumnya dianggap sebagai beban bagi mereka.
Dalam hal membangun semangat siswa, kerjasama antara guru dan orang tua sangat diharapkan. Pihak guru dan orang tua harus membangkitkan keinginan dan kemauan anak untuk belajar. Anak perlu pemahaman yang intens untuk apa belajar dan mengapa mereka harus belajar. Dengan demikian keinginan orang tua dan tujuan para pendidik agar siswa berhasil dalam belajar bisa terwujud.(jhon)
