CB, Lumajang – (2/9) Hingga saat ini masyarakat diberbagai desa di wilayah yosowilangun kabupaten lumajang, ada yang masih menjalankan tradisi peninggalan nenek moyangnya yang telah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu. Tradisi di maksud adalah berupa upacara Ruwatan Bumi, yaitu ritual manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala yang telah diperoleh dari hasil bumi.
Ruwatan berasal dari kata Ruwat atau (bahasa jawa) yang artinya memelihara atau mengumpulkan. Makna dari mengumpulkan adalah mengajak masyarakat seluruh desa berikut hasil buminya untuk dikumpulkan, baik yang masih mentah maupun yang sudah jadi atau dalam taraf pengolahan. Tujuannya selain rasa syukur tadi sekaligus sebagai tindakan tolak balak dan penghormatan terhadap para leluhurnya.
Di daerah Desa krai Kecamatan yosowilangun dan sekitarnya, ruwatan bumi masih dipelihara dan dijalankan dengan sangat khidmat oleh masyarakat setempat susai yang diwariskan orang-orang tua dahulu. Bahkan oleh Pemerintah Kabupaten lumajang dijadikan agenda budaya dan parawisata. Ruwatan bumi di daerah ini memang sangat unik dan menarik karena kekuatan tradisi di masa lalu yang terus terpelihara dengan baik.”jelasnya.
Apa saja rangkaian pelaksanaan pertistiwa ruwatan bumi, menurut kepala desa,perangkat serta tokoh masyarakat RT RW dikumpulkan untuk membawa tumpeng serta hasil bumi mereka dengan niatan agar kedepannya semakin berkah dan makmur,” jelasnya,
Ngalawar dimulai dengan menyimpan sesaji di tengah-tengah masyarakat Kemudian dilanjutkan di keempat sudut kampung. Sesaji atau sesajen untuk ngalawar ini dibungkus dalam ukuran kecil yang di dalamnya terdapat aneka makanan yang terbuat dari beras.”jelasnya
Terakhir pertunjukan seni ludruk jawa timuran tak lain adalah ludruk MERDEKA dengan lakon Capil Maut yang telah diminta oleh kepala desa krai Bpk Suwarno agar supaya sesuai dengan acaranya hari ulang tahun/ HUT RI yang ke 74 indonesia merdeka maka dengan pesta kemerdeka-an inilah masyarakat krai kompak berpartisipasi adakan Ruwatan dan pagelaran seni ludruk agar kesenian tradisional tidak hilang musnah,”Ungkap kepala Desa.(Hardy)
