Sebandingkah Fee-mu Dengan Tanggung Jawab-ku ? Tingkatkan Dulu Kualitas SDM-mu Baru Berbicara Penghasilan Tetap

CB, GRESIK – Mencermati dengan lebih seksama antar peran dan fungsi para unsur penyelenggara pemerintahan, dalam hal ini khususnya pada lembaga desa. Kamis, (16/9/2021), tampak dua mobil dihalaman Desa Geluran kecamatan Benjeng, Gresik.

Pers media adalah juga unsur utama dalam proses penyelenggaraan pemerintahan yang demokratis, pada perjalanannya pers media beserta para awak medianya, dewasa ini banyak menemui persoalan.

Peran pers media, turut mencerdaskan segala aspek kehidupan yang lebih mengedanpan nilai-nilai demokrasi. Pers media adalah kaum intelektual, lebih berat dari semua unsur dalam bertanggung jawab pada proses penyelenggaraan pemerintahan dan ber-Negara, khususnya bagi negara penganut paham demokrasi.

Selama lebih dari satu periode masa jabatan Kepala Desa (Kades), secara resmi hanya dua kali awak media berkunjung kelembaga pemerintah Desa Geluran kecamatan Benjeng kabupaten Gresik, mengucap salam, sebagaimana ciri/khas dari bangsa yang beradab, menanyakan keberadaan orang pertama dilembaga desa, Kades masih melaksanakan ibadah sholat masjid, jawab dari beberapa perangkat desa.

Hati kecil berbicara sudah tidak akan berkunjung lagi, mengingat kali pertama awak media berkunjung, kooperatif dan rasa kemanusiaan kurang terasa dari semua orang berada didalam lembaga pemerintah Desa Geluran kecamatan Benjeng, terhadap keberadaan awak media, padahal Kades beserta para perangkat desa adalah Pamong atau Pamomong bagi segenap keberadaan manusia.

Fee, menjadi persepsi dari awak media kenapa nilai-nilai kemanusiaan seakan sudah hampir terkikis pada sikap dan sifat manusia zaman now, khususnya mereka para Pamong. Akan beranjak meneruskan perjalanan, awak media bertemu dengan yang bersangkutan yaitu orang pertama dilembaga desa Geluran kec-Benjeng.

Bahwa bagi mereka sudah menjadi kepastian adalah Fee yang menjadi tujuan utamanya dari kedatangan awak media, jika memang benar demikian para Pamong beramsumsi, yaitu keberatan atas pemberian Fee dan terlebih telah terlanjur menjadi image negatif.

Seberapa besar pemberian Fee-mu dengan Tanggung Jawab-ku sebagai awak media ?

Tepat didepan pintu gerbang balai Desa Geluran, turun dari motor berbonceng, menjawab salam, berjabat, mempersilakan duduk kepada awak media, berseragam lengkap, secara persis awak media kurang mengerti siapakah yang bersangkutan.

Muncul dari belakang awak media, entah siapa, tanpa disertai penampilan yang meyakinkan, mengalihkan komunikasi yang akan dilakukan oleh awak media dengan yang semula mempersilakan duduk.

Timing sampeyan kurang tepat mas, ucapnya kepada awak media, beliau adalah Kades Pjs/Plt yang baru dilantik tadi malam, ya tiga hari lagilah datang kesini, sarannya.

Sepontan emosi awak media terucapkan sebagai sebab pengalihan komunikasi yang seharusnya akan berlangsung antara awak media dengan yang paling bertanggung jawab dilembaga tersebut.

Menyadari tidak begitu penting tentang materi yang dibawa oleh awak media, berusaha untuk mengungkapkan kekeluargaan dengan menyebutkan tempat tinggal awak media yang masih bertetangga desa.

Sebagaimana respon terhadap sarannya untuk datang tiga hari lagi, menjadi yakin persepsi bahwa asumsi mereka terhadap keberadaan awak media adalah ujung-ujungnya Fee. Disertai rasa emosi yang tertahan mengingat telah teralihkan komunikasi olehnya, kalaupun demikian iya yang penting tidak keberatan, seliter atau dua liter, sebatang atau sebungkus rokok, tutur awak media merendah guna memancing apakah memang telah berasumsi demikian.

Berapa penghasilan perangkat desa mas, tukasnya. Berintonasi, apakah itu pernyataan resmi, tekan awak media, mengingat pula tampilan yang kurang mendukung pada dirinya jika seorang Pamong. Selama ini saya hanya melihat baru dua kali ini pintu ruangan Kades terbuka, bagi saya adalah kesempatan untuk bersilaturohim atau minimal berkenalan, tutur awak media, iya benar jelasnya, bahwa entah jarang atau memang tidak pernah terbuka.

Menjadi hikmah dan pelajaran bagi semua pihak atas hal ini, khususnya bagi awak media. Bahwa tiap-tiap asumsi, terlepas dari asumsi negatif atau positif adalah faktor pendukung yang akan merealisasi atau mewujudkannya, maka sebagai pengingat bahwa senantiasa berasumsi positif adalah cermin bahwa kita patut menjadi figur tauladan atau Pamomong.

Perlu digarisbawahi, bagi pihak yang berkompeten tentunya, bahwa menjadi sebuah aspirasi, jika penghasilan tetap atau gaji yang diterima oleh para penyelenggara pemerintah, khususnya bagi para perangkat desa dalam hal ini, yang menjadikan mereka tidak berlaku profesional dan ironis dengan tidak saling menjaga nilai-nilai kemanusiaan atau harga diri antar sesama.

Konsekwensi logis tentunya, meningkatkan profesionalitas semua unsur dan/atau elemen penyelenggara pemerintahan adalah kualitas SDM menjadi dasarnya, tidak canggung dan nanggung yang berakibat hanya pada orientasi Fee atau mtrealistis belaka, dan lebih fatalnya akan berdampak pada gesekan fisik atau perpecahan. bersambung.(Sub)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *