KPRI Akui Pendistrisibusian Seragam BSM Banyak Yang Belum Direalisasi, Kadispendikpora: Kami Tidak Menutup Saran Maupun Kritikan Dari Semua Pihak

CB, TULUNGAGUNG – Carut marut pengadaan Bantuan Siswa Miskin (BSM) di Kabupaten Tulungagung, hingga saat ini masih menuai kritikan dari berbagai elemen. Pasalnya, hingga saat ini

banyak seragam siswa yang belum terealisasi. Selain itu, pengadaan BSM ini diduga jauh dari standart kwalitas yang sudah disepakati.

Padahal, anggaran untuk BSM ini sangat fantastis dan yang dialokasikan dari APBD Pemkab Tulungagung 2021, yakni senilai. 18,6 Milyar. Tentu pula anggaran yang nominalnya yang sangat besar ini, bisa mengarah pada penyimpangan anggaran, khususnya pengadaan bahan dan kwalitas seragam tidak sesuai dengan ketentuan yang sudah disepakati.

Agus Santoso, bendahara Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Kecamatan Kalidawir mengatakan, bahwq sampai saat ini (Kamis 21/04, red), seragam siswa masih banyak yang belum di bagikan. Sedangkan dari hasil investigasi Cahaya Baru dilapangan memang benar adanya bahan seragam untuk siswa, yakni kwalitas barangnya tak sesuai harga yang dianggarkan.

Saat dikonfirmasi, pihak Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Kecamatan Kalidawir membenarkan, bahwa bahan seragam yang di bagikan siswa jelas sekali terlihat kwalitas barang tak sesuai harga yang di anggarkan. Padahal tas sekolah yang di bagikan ke siswa itu dianggarkan kisaran Rp. 75.000 dan sepatu dianggarkan Rp. 120.000, dengan spek dan merk yang saman itu jauh lebih murah dibandingkan beli di toko.

 “Memang benar mas, saat ini masih banyak seragam Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang belum dibagikan. Hal ini mungkin saja disebabkan banyaknya seragam siswa yang harus di bagikan, apalagi waktu pengadaannya sangat singkat. Sebab sesuai kesepakatan, tanggal (30/04) semua seragam sudah harus terealisasi dibagikan kepada siswa,” jelas Agus Santoso kepada Cahaya Baru.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung Drs Rahadi P Bintara saat dikonfirmasi terkai BSM yang terus menuai kritik ini mengatakan, bahwa program BSM tersebut adalah program baru. Namun demikian, kendati program tersebut masih baru, akan tetapi perlu adanya evaluasi pula.

“Jadi, BSM ini memang program baru. Sehingga program baru ini dalam pelaksanaannya perlu banyak dilkukan evaluasi. Kami tidak menutup saran maupun kritik dari semua pihak terkait pelaksanaan BSM yang lebih baik ini,” ujar Kadispendikpora Tulungagung kepada wartawan, Rabu (27/04).

Akan tetapi, program bantuan sosial (Bansos) ini bisa memberi manfaat bagi siswa agar anak-anak dari keluarga miskin tidak putus sekolah.

“Harapan kami, semua siswa penerima program ini bisa memberikan manfaat mereka secara khusus, agar anak-anak yang menerima program ini, secara umum agar tidak putus sekolah,” jelas mantan Camat Ngunut ini.(rul)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *