CB, TULUNGAGUNG – Dampak kemarau yang cukup panjang, dibebera desa terlihat mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Bahkan, jelang akhir September 2024, daerah terdampak kekeringan di Tulungagagung makin terus bertambah.
Berdasarkan catatan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung, berkisar 13 desa telah mengalami krisis air bersih. Dan, 13 desa tersebut tersebar di 8 kecamatan, khusunya yang ada di wilayah pegunungan, seperti di Kecamatan Besuki, Kalidawir, Tanggungunung, Pucanglaban, Campurdarat, Rejotangan, Besuki serta Kecamatan Pagerwojo.
Untuk Kecamatan Pagerwojo, khususnya Desa Mulyosari, yakni pada musim kemarau tahun lalu tak berdampak kekeringan. Akan tetapi, desa yang berbatasan dengan Trenggalek, tahun ini juga mengalami kekeringan alias mengalami krisis air bersih.
Upaya meringankan beban masyarakat di belasan desa yang mengalami kekeringan itu, BPBD Kabupaten Tulungagung terus menggelontor air bersih. Setiap harinya, air bersih yang dikirim ke desa-desa tersebut berkisar empat tangki atau 20 ribu liter, yakni secara bergiliran.
“Kekeringan di Tulungagung masih, pada saat ini. Dan kita juga masih mengirimkan bantuan air bersih, per harinya ada empat tangki dengan kapasitas 5 ribu liter,” kata Kepala BPBD Kabupaten Tulungagung Robinsom Nadeak kepada media ini diruang kerjanya, Kamis (19/09).
Rebinson menjelaskan, untuk pengiriman air bersih di desa terdampak secara bergiliran, mengingat BPBD hanya memiliki dua kendaraan.
Hingga saat ini, lanjut Robinson, air bersih yang sudah dikirim di belasan desa yang terdampak, yakni berkisar 148 rit ke sejumlah 3.023 KK atau 7.780 jiwa. Dan, menurutnya, dibandingkan musim kemarau tahun lalu, kekeringan lebih banyak tahun ini, dikarenakan tambahan desa.
“Seperti Desa Mulyosari Kecamatan Pagerwojo, yang sebelumnya tidak pernah meminta bantuan air, untuk tahun ini desa juga meminta bantuan air bersih,” ungkapnya.
Robinson menambahkan, berdasarkan prediksi Badan Metrologi Klimattologi dan Geofisika, kekeringan bakal melanda hingga Oktober.
Namun demikian, Robinson meminta pada masyarakat agar tidak perlu takut atau merasa was-was soal prediksi dari Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisaka. “Masyarakat tidak perlu takut dan tetap tenang,” tutup Robinson.(Hsu)
