Efisiensi Anggaran, Sekolah Dilarang Gelar Wisuda: Orang Tua di Tulungagung Keberatan ‘Diminta’ Uang Tasyakuran

CB, Tulungagung – Kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah bertujuan meningkatkan efektivitas pengelolaan keuangan negara. Para pemangku kebijakan, seperti gubernur dan bupati/wali kota, turut menerapkan kebijakan ini di wilayah masing-masing.

Selain efisiensi anggaran, pemerintah juga melarang sekolah mengadakan kegiatan wisuda sebagai upaya meringankan beban orang tua siswa. Di Jawa Timur, misalnya, Gubernur Khofifah Indar Parawansa telah menerbitkan larangan wisuda melalui Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 000.1.5/1506/101.5/2025.

Akibatnya, sekolah-sekolah di Tulungagung hampir tidak ada yang menggelar acara wisuda pada tahun ini.

Namun, meski tidak ada wisuda, masih ditemukan dugaan upaya dari pihak sekolah untuk menarik dana dari orang tua siswa. Salah satunya terjadi di SD Negeri 2 Karangwaru, Kecamatan Tulungagung Kota. Orang tua siswa diminta memberikan ‘bantuan’ sebesar Rp250 ribu untuk acara tasyakuran, yang diinformasikan melalui grup WhatsApp.

Permintaan ini memicu reaksi beragam dari para orang tua. Seorang wali murid berinisial B mengaku tidak sependapat dengan permintaan tersebut. Menurutnya, dalam kondisi ekonomi saat ini, permintaan uang itu cukup memberatkan.

“Kan sudah ada larangan (wisuda). Mestinya guru tahu kondisi sekarang, tidak semua orang tua mampu,” ujar B. Ia menambahkan, banyak wali murid yang juga mengeluhkan hal ini karena dana tersebut seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan masuk ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Sementara itu, Kepala SDN 2 Karangwaru, Sihwiyani, S.Pd., membantah bahwa pihak sekolah meminta dana tasyakuran dari orang tua siswa.

“Itu tidak benar, Mas. Kalau pun ada bantuan, itu murni inisiatif dari orang tua, bukan dari pihak sekolah,” jelasnya.

Namun, yang mengherankan, meskipun Sihwiyani menyatakan bahwa pihaknya tidak meminta sumbangan, ia justru mengungkapkan bahwa praktik serupa juga terjadi di beberapa sekolah lain. “Hal seperti ini sebenarnya juga terjadi di sekolah-sekolah lain,” ujar Sihwiyani, yang juga menjabat sebagai Plt Kepala SDN 1 Karangwaru.(tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *