SURABAYA ,Cahaya Baru – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat berbagai program peningkatan konsumsi ikan pada tahun 2026 sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan menekan angka stunting. Langkah tersebut merupakan kelanjutan dari Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu program unggulan dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.
Pemerintah daerah menilai konsumsi ikan memiliki peran penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat. Ikan dikenal sebagai sumber protein hewani yang kaya akan asam lemak omega-3, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan anak, meningkatkan kecerdasan, serta menjaga kesehatan tubuh. Oleh karena itu, peningkatan konsumsi ikan terus didorong agar menjadi bagian dari pola makan sehari-hari masyarakat.
Berbagai upaya dilakukan untuk mencapai target tersebut. Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten dan kota secara rutin menggelar kampanye edukasi gizi di sekolah-sekolah, kelompok masyarakat, dan pos pelayanan kesehatan. Selain itu, pelatihan pengolahan hasil perikanan juga diberikan kepada pelaku usaha mikro dan kelompok masyarakat agar mampu menghasilkan produk olahan ikan yang lebih beragam, menarik, dan memiliki nilai tambah ekonomi.
Program sosialisasi konsumsi ikan juga diperkuat melalui berbagai kegiatan, seperti lomba memasak berbahan dasar ikan, bazar produk perikanan, hingga pemberian paket makanan bergizi kepada keluarga yang memiliki balita. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami manfaat ikan sebagai sumber pangan sehat yang mudah diperoleh dengan harga yang relatif terjangkau.
Tidak hanya berfokus pada edukasi, pemerintah juga berupaya memastikan ketersediaan pasokan ikan di seluruh wilayah Jawa Timur. Penguatan distribusi ikan ke daerah nonpesisir menjadi salah satu prioritas agar masyarakat di wilayah pedalaman memiliki akses yang sama terhadap produk perikanan segar maupun olahan. Berbagai sarana pendukung, seperti kendaraan berpendingin dan fasilitas penyimpanan rantai dingin, terus ditingkatkan guna menjaga kualitas produk hingga sampai ke tangan konsumen.
Hasil dari berbagai program tersebut mulai menunjukkan perkembangan yang positif. Berdasarkan data hingga tahun 2025, Angka Konsumsi Ikan (AKI) masyarakat Jawa Timur mencapai sekitar 53,30 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sekitar 51,45 kilogram per kapita per tahun. Kenaikan tersebut menunjukkan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi ikan sebagai bagian dari pola hidup sehat.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan angka konsumsi ikan terus meningkat pada tahun 2026. Target tersebut dinilai realistis mengingat potensi perikanan Jawa Timur yang sangat besar. Sebagai salah satu provinsi dengan sektor kelautan dan perikanan yang kuat, Jawa Timur memiliki produksi ikan tangkap maupun budidaya yang melimpah dan tersebar di berbagai wilayah.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur menjelaskan bahwa peningkatan konsumsi ikan tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Tingginya permintaan ikan akan meningkatkan aktivitas produksi, distribusi, dan pengolahan hasil perikanan sehingga memberikan dampak positif bagi nelayan, pembudidaya ikan, serta pelaku usaha perikanan lainnya.
Menurutnya, konsumsi ikan yang tinggi juga berkaitan erat dengan upaya penurunan angka stunting. Kandungan protein dan nutrisi penting dalam ikan berperan besar dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, peningkatan konsumsi ikan menjadi salah satu strategi yang terus didorong pemerintah untuk menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
Meski menunjukkan tren positif, sejumlah tantangan masih dihadapi dalam pelaksanaan program tersebut. Di beberapa daerah nonpesisir, tingkat konsumsi ikan masyarakat masih tergolong rendah dibandingkan wilayah pesisir. Faktor distribusi, keterbatasan akses terhadap produk perikanan segar, daya beli masyarakat, serta kebiasaan konsumsi pangan menjadi beberapa penyebab yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, pemerintah berencana memperluas jangkauan program edukasi dan memperkuat infrastruktur pendukung distribusi perikanan. Diversifikasi produk olahan ikan juga akan terus dikembangkan agar lebih sesuai dengan selera masyarakat dan dapat menjangkau berbagai kelompok usia. Selain itu, kolaborasi dengan sekolah, lembaga kesehatan, dan pelaku usaha akan diperkuat guna memperluas kampanye konsumsi ikan di seluruh daerah.
Pemerintah optimistis sinergi antara peningkatan produksi perikanan, edukasi masyarakat, penguatan distribusi, dan inovasi produk olahan akan mampu mendorong kenaikan konsumsi ikan secara berkelanjutan pada tahun 2026. Dengan demikian, tujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, menurunkan angka stunting, dan memperkuat sektor kelautan serta perikanan sebagai salah satu pilar perekonomian Jawa Timur dapat tercapai secara optimal.(Er)
