Pendidikan Harus Menjadi Gerakan Bersama di Usia 116 Tahun OKU

Oleh: Azwar Aripin ( TBUPP /Stafsus Bupati OKU Bidang Pendidikan )

Usia 116 tahun bukanlah perjalanan yang singkat bagi Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Rentang waktu yang panjang tersebut telah melahirkan berbagai capaian pembangunan, sekaligus menyisakan pekerjaan rumah yang harus terus diselesaikan. Di bawah tema peringatan HUT ke-116 Kabupaten OKU, “Serentak Bergerak, Berdampak Nyata, Wujudkan Sayangi OKU”, masyarakat diajak untuk tidak sekadar merayakan hari jadi daerah, tetapi juga melakukan refleksi terhadap arah pembangunan yang ingin diwujudkan.

Salah satu sektor yang layak menjadi perhatian utama adalah pendidikan. Sebab, keberhasilan pembangunan daerah pada akhirnya ditentukan oleh kualitas manusianya. Daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah sekalipun akan sulit bersaing apabila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan mampu menjawab tantangan zaman.

Selama beberapa tahun terakhir, pembangunan pendidikan di Kabupaten OKU menunjukkan perkembangan yang patut diapresiasi. Berbagai program peningkatan sarana pendidikan, bantuan operasional sekolah, Bantuan Seragam Dan peralatan Gratis Bupati OKU, Pelatihan Keterampilan Kerja buat anak putus Sekolah serta perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik telah menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah OKU. Namun, pembangunan pendidikan tidak boleh berhenti pada penyediaan infrastruktur semata. Tantangan pendidikan hari ini jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade yang lalu.

Era digital telah mengubah cara belajar, bekerja, dan berinteraksi. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu membimbing peserta didik berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Di sisi lain, peserta didik dituntut memiliki literasi digital yang baik agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif, bukan sekadar menjadi konsumen informasi.

Sayangnya, transformasi tersebut belum sepenuhnya berjalan merata. Masih terdapat kesenjangan fasilitas pendidikan antara sekolah di pusat kota dan wilayah Pedesaan maupun wilayah 3 T yang lebih jauh dari pusat pemerintahan. Akses internet, perangkat pembelajaran digital, laboratorium, hingga perpustakaan yang representatif masih menjadi kebutuhan di sejumlah sekolah. Kesenjangan ini harus menjadi perhatian agar setiap anak di OKU memperoleh kesempatan belajar yang setara.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah penguatan karakter. Kemajuan teknologi membawa manfaat besar, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa menurunnya etika bermedia sosial, meningkatnya penyebaran informasi yang tidak benar, serta melemahnya budaya membaca dan berdiskusi. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk generasi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, toleran, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Tema “Serentak Bergerak, Berdampak Nyata” mengandung pesan bahwa membangun pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah memiliki peran dalam merumuskan kebijakan dan menyediakan anggaran yang memadai. Sekolah bertanggung jawab meningkatkan mutu pembelajaran. Guru terus mengembangkan kompetensinya. Orang tua menjadi pendidik pertama di lingkungan keluarga. Perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dunia usaha dapat membuka ruang kolaborasi melalui program pelatihan, magang, dan penguatan keterampilan kerja. Ketika semua unsur bergerak bersama, dampak yang dihasilkan akan jauh lebih besar dibandingkan jika bekerja sendiri-sendiri.

Dalam konteks itulah, semangat Sayangi OKU menemukan maknanya. Mencintai daerah tidak cukup diwujudkan melalui slogan, tetapi melalui investasi yang berkelanjutan pada kualitas manusia. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi akan menentukan wajah Kabupaten OKU pada masa mendatang.

Pada usia ke-116 ini, sudah saatnya Kabupaten OKU menjadikan pendidikan sebagai gerakan kolektif. Tidak hanya membangun ruang kelas yang layak, tetapi juga membangun budaya belajar, budaya literasi, budaya inovasi, dan budaya kolaborasi. Pendidikan harus menjadi ruang untuk melahirkan generasi yang mampu menciptakan lapangan kerja, mengembangkan potensi daerah, menjaga nilai-nilai budaya, serta memperkuat kehidupan masyarakat yang religius dan harmonis.

Refleksi hari jadi Kabupaten OKU hendaknya menjadi titik awal untuk memperkuat komitmen bahwa setiap kebijakan pembangunan harus bermuara pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sebab, pembangunan yang paling berdampak bukan hanya yang tampak dalam bentuk bangunan fisik, melainkan pembangunan yang melahirkan generasi cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-116 Kabupaten Ogan Komering Ulu. Mari serentak bergerak, menghadirkan dampak nyata, dan menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama dalam mewujudkan Sayangi OKU demi masa depan yang lebih maju, sejahtera, nyaman, dan religius.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *