OPINI
Nusron Bukan Jin, Tapi Thuyul
Oleh: Soenarwoto
LIMA hari setelah KPK melakukan OTT dengan menangkap delapan orang dan menyita uang Rp 106 miliar, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid mendadak “hilang”. Namun kemarin (18/9), Nusron muncul di kantornya dan melakukan jumpa pers. Nusron muncul tidak menyebut di mana tempat ia “bersembunyi’ selama menghilang.
Tapi, begitu muncul langsung bikin pernyataan kocak jika tak bisa disebut nyleneh. “Masak kita bisa menghilang kayak jin saja,” ucapnya. Gaya ini khas banget orang NU; habis “gegeran” (bertengkar) lalu “ger-geran” (guyonan). Asyik.
Sialnya, candaan Nusron itu tak berada di lingkungan NU. Tapi di lingkungan besar, yakni dalam bernegara. Di mana ia wajib bertanggung jawab ketika KPK menangkap anak buahnya melakukan tindak korupsi dalam pengurusan hak guna bangunan (HGB) di kementerian ATR/BPN. Bukan menghilang.
Lantaran begitu muncul dan pernyataannya kocak, netizen pun menanggapi dengan kocak pula. Candaan netizen malah lebih menghebohkan. Salah satu candaan netizen itu begini; “Nusron memang bukan jin, tapi thuyul.”
Jin dan thuyul adalah satu klaster; sama-sama “lelembut”. Mereka juga satu klaster dengan para koruptor. Kerjanya senyap tak diketahui banyak orang, tapi sangat merugikan. Merugikan rakyat dan merugikan negara.
Thuyul, dalam legenda masyarakat jawa, adalah “lelembut” sebangsa jin. Thuyul hobinya mencuri uang. Thuyul mencuri uang tak hanya pada malam hari, tapi juga berani beraksi di siang hari walau ramai orang. Meski begitu aksi mencurinya tetap dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Mirip koruptor.
Karena memiliki kegemaran mencuri uang itu oleh manusia, khususnya mereka yang ingin cepat kaya dengan jalan pintas, thuyul dijadikan “piaraan”. Thuyul disuruh mencuri uang milik orang lain atau uang negara, untuk kemakmuran hidup majikannya yang memelihara thuyul.
Thuyyul dalam legenda masyarakat Jawa menyerupai bocah kecil dan kepala gundul. Sifat-sifatnya pun seperti bocah kecil, suka makan dan minum susu. Makannya “kembang segar sesajen” dan minumnya “susu” segar pula. Susu segar yang diminum harus milik isteri juragan atau anak putri juragan.
Perjanjiannya, thuyul sendiri yang “menetek’ langsung payudara milik isteri juragan dan anak perempuannya. Tidak boleh tidak. Begitulah “perjanjiannya” bagi orang yang ingin ‘memelihara” termul, eh thuyul. Jika majikannya ingkar tidak memenuhi perjanjiannya, thuyul pun ogah bekerja mencuri uang untuk majikannya.
Kalaupun mencuri uang malah akan ditampakkan kepada manusia lain, agar majikannya menanggung akibatnya. Dipermalukan. Membaca legenda jawa ini, saya boleh menduga, ketika lima hari menghilang Nusron sedang “memarahi” isteri atau anaknya. Gegara tidak menyusui thuyul yang dipeliharanya.
“Begini akibatnya. Thuyyul marah, kini aksi mencuri uang negara untuk kita diperlihatkan. Ditangkap KPK, malu saya. Bisa-bisa saya dicopot sebagai Menteri ATR/BPN ,” kata Nusron kepada isterinya dalam imajinasi fiksi saya.😃😃
Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung.
