DAERAH
“Solilokui Jokowi”
Oleh: Soenarwoto
“LAMUN siro sekti, ojo mateni. Meskipun kamu sakti, jangan suka menjatuhkan atau membunuh. Nggak boleh. Mentang-mentang punya kekuasaan yang besar kemudian dipakai untuk menjatuhkan orang. Mboten. Itu hal yang tidak baik,” kata nasihat mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Harlah ke-8 KH Musyafa Ali Ponpes Al-Falah Kebumen, Jateng, akhir Agustus 2026.
Termasuk bapak ibu semuanya juga, tandas Jokowi, jangan seperti itu. Mentang-mentang jadi lurah kemudian ke rakyatnya “bak-buk, bak-buk”. Sering //ngendiko banter//, sering //ngendiko kasar// ke rakyatnya. Nggak boleh.
“Karena kekuasaan itu hanya sementara. Kekuasaan itu hanya sampiran. Jabatan itu hanya sampiran. Itu yang harus diingat ketika kita memiliki kekuasaan,” tambah Jokowi dengan bahasa “campursari” (Jawa-Indonesia).
Nasihat itu pun langsung ditanggapi banyak pihak. Maklum, Jokowi meski sudah bukan presiden, kini masih memiliki “magnet” politik yang kuat. Apalagi, “syahwat” politik untuk melanjutkan dinastinya melalui PSI sebagai gerbongnya pun kian berderak. Sehingga apa pun yang dikatakan dan dilakukannya selalu ramai diperbincangkan banyak orang.
Tapi, pertanyakkannya sekarang, kemana arah nasihat Jokowi itu diarahkan? Dengan cepat para pengamat menyatakan, bahwa nasihat Jokowi itu diarahkan kepada Presiden Prabowo Subiantoro. Itu jelas dari narasinya yang menyebutkan “mentang-mentang punya kekuasaan besar” kemudian dipakai untuk menjatuhkan orang. Orang yang memiliki kekuasaan besar sekarang adalah Prabowo.
Lebih lagi mengarah kepada Prabowo adalah ungkapan kata Jokowi; sering //ngendiko banter// (berkata keras), sering //ngendiko kasar// (berkata kasar). Siapa lagi jikalau tidak ditujukan kepada Prabowo. Seperti diketahui, selama dua tahun menjabat sebagai presiden, Prabowo memang suka berkata keras dan kasar; Ndasmu!
Keruan, nasihat itu pun dijadikan alat memuji dan mencerca. Dalam dunia politik, pro dan kontra adalah hal biasa. “Keren banget Pak Jokowi. Nasihat itu memperlihatkan ia benar-benar negarawan dan orang bijaksana,” kata pendukung Jokowi.
Berbanding balik dengan mereka yang berseberangan. “Apa di rumahnya tidak ada cermin, sampai ia tidak tahu seperti apa wajah dirinya sendiri,” kata Deddy Sitorus, anggota PDIP. Nylekit.
Kritikan senada juga dilontarkan oleh Lukas Suwarso, anggota Bonjowi (Bongkar Ijasah Jokowi). “Jokowi sedang ber-silolukui. Nasihat itu sebenarnya mengomongkan dirinya sendiri. Ia lagi Halu,” kata Lukas Suwarso mengutip kata “solilokui” dari drama “Hamlet” karya William Shakespeare.
Lebih nylekit lagi kritikan Ahmad Khozinuddin, pengacara dan aktivis anti-korupsi. “Ora ngilo githoke (tidak melihat tengkuknya sendiri). Siapa yang punya kuasa lalu suka bak-buk, bak-buk kepada rakyatnya. Ya dia sendiri. Jadi cocoknya nasihat itu untuk dirinya sendiri,” ujar Khozinuddin seraya menunjukkan penggalan vedio Jokowi saat jadi presiden.
Dalam vedio itu Jokowi sedang memerintahkan aparatnya di tingkat Polda, Polres, sampai Polsek untuk menangkapi orang-orang yang anti-pemerintah (baca lawan politik). “Tangkap mereka. Jika ada undang-undang yang membolehkan, “door” mereka,” pinta Jokowi berapi-api. Maka tak salah jika ada orang bilang; nasihat itu sesungguhnya untuk menasihati diri sendiri. Solilokui.
Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung.
