CB, Lumajang – Profesi Guru yang sangat dikenang dengan istilah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, mungkin itulah yang mendominasi latar belakang Drs. H. As’at Malik, M.Ag, Calon Bupati Lumajang Nomor Urut 2 (Dua) yang berdampingan dengan H. Thoriq Al Katiri sebagai Calon Wakil Bupati Lumajang, kerap memperjuangkan nasib guru terlebih Guru Tidak Tetap (GTT).
Bukan itu saja, selanjutnya Drs. H. As’at Malik, M.Ag, Calon Bupati Incumbent memang dikenal sebagai sosok yang pendiam sangat tanggap serta sangat peduli dengan dunia pendidikan. Baik itu pendidikan formal maupun non formal. dan hal tersebut kerap disampaikan dalam setiap sambutannya saat menjadi Bupati Lumajang.
Bahkan,sebelum memutuskan terjun di dunia politik, Ia sempat mengajar sebagai guru honorer di SMA Muhammadiyah Lumajang, setelah lulus dari IKIP Malang pada tahun 1987, kemudian Ia juga mengajar di Sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lumajang juga sebagai GTT, dan di eranya, tunjangan GTT sangat memprihatinkan jauh dari kecukupan, namun dirinya bertekad untuk mencerdaskan anak bangsa, sehingga pendapatan yang sangat minim kala itu tidak menjadi soal karena niatannya adalah ibadah.
Nampaknya menjadi guru adalah niatnya untuk mencerdaskan bangsa dan tidak menyurutkan hatinya meskipun menerima honor yang kurang dari cukup, dan ia bersyukur,dan ditemanya dengan ikhlas, hingga beberapa tahun kemudian, As’at mencoba peruntungan dengan mendaftar sebagai CPNS, dengan niatan yang tulus sehingga dirinya lolos menjadi Guru PNS, dan ditempatkan mengajar di SMAN 2 Lumajang.
Sementara As’at yang condong secara agamis membuat kepercayaan tersendiri bagi ayahandanya yang mempercayakan Pondok Pesantren (Ponpes) Duren yang didirikan sejak tahun 1970 untuk dikelola oleh As’at, Ponpes Duren saat ini sudah berganti nama Al-Malik yang beralamat di Dusun Duren, Desa Dawuhan Lor, Kec. Sukodono.
Bahkan tidak itu saja, meski dirinya menjadi Bupati Lumajang ke inginannya untuk mencerdaskan anak bangsa terus berkecamuk didalam jiwanya, terbukti ketika melihat lahan nganggur milik mertuanya yang berencana dijadikan Ponpes Al-Fatah, diakuinya pula Ponpes Al-Fatah dirikan sejak tahun 2016, dengan minimnya anggaran yang dimiliki, namun tekatnya tetap bulat untuk terus membangun dan mencetak generasi berakhlak Kharimah.
Selanjutnya “Saya harus menyelesaikan Ponpes Al-Fatah, karena awal pembangunanya saya terbawa mimpi ditemu’i ayah mertua (H. Abdullah-Alm) untuk segera merampungkan Ponpes Al-Fatah”,Ucapnya.
Namun semenjak dirinya berinisiatif mendirikan Ponpes Al-Fatah yang beralamat di Desa Karangsari Kec. Sukodono, dirinya terus menyisihkan gaji saat menjadi Wakil Bupati hingga menjadi Bupati Lumajang. karena tanah milik mertuanya dirasa kurang luas sehingga ia harus membeli tanah disebelahnya.
“Alhamdulillah, tanah sebelah mau dibeli meskipun harus dengan cara dicicil”,Pungkasnya (kar/had).
