OPINI
Purbaya “Kesrempet” Whoosh, “Keracunan” MBG, dan “Tersundut” Rokok
Oleh: Soenarwoto
PAGI tadi saya menikmati kopi dan rokok. Ngopi dan ngrokok adalah ritual pagi yang biasa saya lakukan setelah bangun tidur dan mengawali aktivitas. Hidup tanpa kopi dan rokok, bagi saya pribadi, rasanya kurang “afdol”. Maaf, seperti “beol” tidak cebok. Kurang lengkap.
Saat menikmati kopi dan rokok itu, saya juga menikmati berita viral, yakni Purbaya Yudhi Sadewa dicopot Presiden Prabowo Subiantoro sebagai Menteri Kuangan (Menkeu). Purbaya dicopot dan diganti Suahasil Nazara kemarin (14/9), setelah satu tahun enam hari diangkat menjadi Menkeu menggantikan Sri Mulyani. Purbaya diangkat Prabowo, pun dicopot oleh Prabowo.
Keruan, banyak pihak yang mempertanyakan mengapa Prabowo mencopot Purbaya. Meskipun semua tahu bahwa pencopotan itu hak prerogratif presiden. Tapi, mengapa Purbaya yang sedang “menyehatkan” uang negara akibat Presiden Joko Widodo (Jokowi) dulu “ugal-ugapan” menggunakan APBN itu dicopot? Mengapa Prabowo tidak mencopot menteri-menteri “titipan” Jokowi yang tidak optimal kerjanya dan malah “nyrimpeti” kabinetnya itu?
Tatkala banyak pihak bertanya tentang pencopotan itu, saya sebagai perokok, tetap menikmati kopi dan rokok. Menurut saya, sebagai tukang ngopi dan ahli hisap (merokok) ini, siapa pun Menkeu-nya nanti ibaratnya duduk di “kursi panas”. Berat. Keuangan negara sekarang sudah telanjur terpuruk atau bahkan ambruk.
Apalagi, jika Menkeu yang baru nanti tidak punya bekingan kuat politik (partai di DPR RI) dan aparat (TNI, Polri, dan Kejaksaan Agung). Oleh karena itu, Suahasil Nazara yang menjadi Menkeu sekarang harus hati-hati dan waspada. Sebab, gerombolan oknum partai dan aparat itu sudah telanjur “mencengkeram” kuat sumber-sumber keuangan negara. Salah langkah ia bisa didepak atau bahkan “dikriminalisasi”.
Purbaya dulu diangkat Menkeu juga bercita-cita luhur ingin “menyehatkan” uang negara, dengan niat akan memangkas program yang tidak memiliki kepentingan rakyat. Ceplas-ceplos mulut dan garangnya sikap Purbaya ini, tentu, sangat tidak disukai oleh oknum pejabat bermental garong, yang selama ini telah menikmati uang negara dari program berdalih rakyat.
Purbaya paling berani sikapnya adalah soal Whoosh, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Hutang proyek Whoosh ini tidak boleh menggunakan uang APBN. Purbaya lupa bahwa “otak” proyek ini adalah Jokowi. Seketika Purbaya pun “kesrempet” kereta Whoosh. Mencelat.
Purbaya pun mencoba “mengusik’ program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Purbaya mengotak-atik agar bagaimana kedua program itu tidak terlalu besar menyedot keuangan negara. Purbaya juga lupa bahwa kedua program tersebut adalah program andalan Prabowo-Gibran untuk kepentingan Pemilu 2029. Mengusik MBG dan KDMP itu berarti menentang program Prabowo dan Jokowi. Jadilah Purbaya ikut “keracunan” MBG. Terkapar.
Purbaya memang diketahui sedang berupaya menyehatkan keuangan negara. Uang negara itu bersumber dari pajak dan utang. Ketika utang sudah berjibun membebani rakyat hingga tujuh turunan, Purbaya berusaha memutar otak untuk mengintesifkan pendapatan pajak dari cukai rokok. Ia pun menggempur habis-habisan peredaran rokok ilegal dan cukai palsu.
Ironisnya, cukai rokok palsu itu sendiri ternyata “penjualnya” adalah oknum bea cukai sendiri, yang dibekingi oleh oknum aparat dan partai. Purbaya pun “tersundut” rokok cukai palsu. Memang inilah realita negeri kita sekarang; Penjilat diangkat, orang jujur digusur. Nasibmu Prabowo, eh nasibmu Purboyo.
Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung.
