DAERAH
“Siasat Bahlil” Pertalite Tak Naik
Oleh: Soenarwoto
PEMERINTAH telah menetapkan harga BBM. Mulai awal September lalu hampir semua jenis BBM harganya naik. Eh, “disesuaikan”. Begitu kata pemerintah biasanya jika menaikkan harga BBM.
Kenaikan harga BBM sekarang, kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dampak dari perang Iran-AS. Kenaikannya pun mengikuti harga minyak dunia yang kini naik. Meski semua BBM non-subsidi naik, tapi pertalite (BBM bersubsidi khusus orang miskin) harganya tidak naik. Tetap “disubsidi” pemerintah.
Sepintas ucapan Bahlil itu terasa “aduhai” banget kedengarannya. Tetapi, oh tetapi, meski pertalite tidak naik tak serta merta “wong cilik” senang. Sebaliknya, wong cilik malah “meriang” alias menderita. Loh, kok gitu?
“Sejak BBM non-subsidi naik, pertalite susah didapatkan. Di SPBU kosong, di penjualan eceran pun kosong,” kata bakul sayur keliling di pinggiran Kabupaten Madiun.
Akhir Agustus menjelang pemerintah akan menaikkan harga BBM, keberadaan pertalite malah lebih parah. Hilang. “Wong cilik susah saat ini. Agustusan bukan berebut hadiah kemerdekaan, malah berebut BBM,” tambahnya berkelakar.
Demi bisa tetap kerja jualan sayur keliling dengan motor, ia mengaku terpaksa beralih beli pertamax. Dengan mengganti pertamax, tentunya, wong cilik tambah berat karena harus menambah pengeluaran. Beli pertalite hanya Rp 10.000/liter, beli pertamax seharga Rp 15.950/liter.
“Tekor jadinya. Untuk bisa beli pertamax, saya harus nambah pengeluaran Rp 5.950/liter. Kalau saya beli pertamax sedikitnya tiga liter, berarti saya harus mengeluarkan tambahan uang sebesar Rp 17.850. Itu tambahan yang tidak sedikit bagi wong cilik seperti saya penjual sayur ini,” keluhnya.
Keluh-kesah ini tak hanya datang dari penjual sayur keliling saja, tapi hampir semua wong cilik yang berkendaraan motor kini //sambat// atau bahkan //nangis ngguguk//. Mereka adalah para buruh, pekerja swasta, dan pensiunan ASN golongan rendah.
Pun bukan di Kabupaten Madiun saja, tapi juga terjadi di daerah Kabupaten Tulungagung dan kota-kota lainnya di Jawa. Tambah parah kelangkaan pertalite terjadi di Kalimantan dan Sulawesi. Untuk mendapatkan pertalite harus antre hingga satu kilometer. Tobil-tobil.
Dan kondisi itu menurut Bahlil, akibat dari serbuan pengguna BBM non-subsidi beralih ke BBM bersubsidi. Tapi, banyak orang menepisnya. Sebab, pembeli pertalite itu harus menunjukkan kartu penerima BBM bersubsidi saat di SPBU. Tak menunjukkan kartu penerima BBM bersubsidi, tidaklah mungkin bisa mendapatkam pertalite. Oleh karena itu nitizen berkomentar; Bahlil Asal Jeplak.
“Pemerintah sekarang memang “bangsat”. Pertalite tak dinaikkan, tapi pasokan dikurangi. Dampaknya pertalite langka di mana-mana. Ini pemerintah yang untung, bisa mengalihkan pengguna BBM bersubsidi ke BBM non-subsidi. Ini benar-benar “siasat bahlul” dari kebijakan Bahlil,” kata wong cilik pengguna pertalite.
Dan lebih “bahlul” lagi adalah Presiden Prabowo Subianto dalam menanggapi kelangkaan BBM pertalite. “Yang masih memakai motor pakai bensin, ya rasain sendiri. Kalau pakai motor listrik kan malah hemat 50 persen,” ucap Prabowo dengan sinisnya.
Seketika nitizen pun nylekit berkomentar; Salah kebijakan pemerintah, kok rakyat kecil yang disalahkan. Mendengar pidato itu saya pun cuma bisa tersenyum dan bergumam, “//Joko Sembung ngemut permen. Gak nyambung men//.”😄😄
Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung.
