Lestarikan Burung Perkutut, Desa Minggirsari Gandeng Komunitas Pecinta Perkutut Blitar Adakan Ajang Lomba

CB Blitar – Lomba perkutut lokal alam yang digelar di Papringan Minggirsari Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar ini, yang menjadi tempat Ngisis dan titik kumpulnya Ngeli-Ban dan Fun Rafting sangat tepat dan direspon positif serta antusias oleh para peserta lomba. Pasalnya, tempat ini masih sangat bernuansa alami dan natural, disamping bambu – bambu (pring) masih banyak terlihat rimbun. Sehingga tempat ini memang tepat sebagai ajang untuk mengadakan perlombaan burung perkutut, apalagi didukung dengan suasana yang sejuk dan asri. Lomba ini diselenggarakan oleh Pemerintahan Desa Minggirsari bekerjasama dengan Komunitas Perkutut Blitar Raya, Minggu (24/04/2022).

Ketua penyelenggara lomba, Mohammad Junaidi Abdulah mengatakan bahwa lomba ini bertujuan untuk melestarikan dan saling menjaga, dalam menjalin silahturahmi sesama para pecinta burung perkutut lokal alam. Untuk event lomba diadakan setiap satu bulan sekali dan untuk latihan dilaksanakan satu Minggu sekali.

“Untuk peserta yang hadir mengikuti lomba ini, yaitu dari kota Malang, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Sidoarjo dan Surabaya. Alhamdulillah untuk dulurĀ  – dulur pecinta perkutut alam ini memiliki satu misi kompak selalu. Untuk lokasi kita sepakati diadakan di papringan desa Minggirsari. Karena nuansanya sangat indah, adem ayem dan dari hati kita cocok. Disamping itu kita dibawa kembali ke habitat, sehingga burungnya merasa nyaman. Nah, bertepatan dengan bersih desa tanggal 31 Juli, kita jadwalkan seperti ini lagi,” katanya.

Junaidi menambahkan, untuk kategori ada lima sesi yang dilombakan yaitu pertama, kelas bursa, ini adalah untuk meningkatkan tingkat perekonomian, yang mana burung perkutut bisa dijual secara lelang ditempat arena. Kedua, kelas pemula yaitu maksimal 50 poin bunyinya, lebih dari itu diskualifikasi. Sementara di kelas pemula yang ikut ada 70 peserta. Kelas ketiga adalah layon, yaitu maksimal 100 poin bunyinya dan bila lebih akan di diskualifikasi.

“Nah, untuk kelas paling bergengsi adalah kelas gacoran lokal alam, waktu yang ditentukan 35 menit tapi untuk bunyi, los tidak ada batasan. Dan untuk yang terakhir, akan kita tutup di kelas gacoran bebas, dalam arti disini ada kutut warna, kutut lokal mungkin peserta ada juga yang membawa kutut bangkok. Untuk pemenangnya, peserta lomba dengan masing-masing memperebutkan juara berupa piagam dan tropy,” imbuhnya.

Ditempat yang sama, ki Bejo Sutejo, selaku pembawa acara juga menyampaikan bahwa dengan adanya event tersebut tersambung tali silaturahmi sembari melestarikan budaya leluhur nenek moyang yang ada di Blitar raya.

“Saya disini sangat melihat kerukunan, keakraban dan kebersamaan sesama peserta. Disisi lain saat kita mendengar suara kicau burung perkutut, rasanys jadi ayem, tentrem dan bisa bersenda gurau dengan rekan – rekan dari berbagai daerah. Dan alhamdulillah, lomba ini diluar ekspektasi kita, karena pesertanya cukup antusias banyak sekali dari beberapa komunitas baik dari Blitar maupun luar kota. Untuk itu, harapan saya dengan event perkutut seperti ini, akan tetap terlestarikan dan menjadi sarana penyambung tali silahturahmi dengan dulur – dulur dari luar kota,” pungkas mbah Bejo MC yang juga sebagai penggemar, pecinta dan pelestari perkutut lokal alam ini.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Minggirsari, Eko Hariadi mengatakan bahwa event ini bagian komitmen Pemerintah Desa Minggirsari dalam menuju EKONOMI KREATIF.

“Untuk itu kami terus berinovasi dan bekerja keras untuk membangkitkan perekonomian setelah massa pandemi ini,” tutur Kades Eko saat menghadiri ajang lomba perkutut. (Pram)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *