“Tipis Tempene, Gemuk Ndasmu”

Oleh: Soenarwoto

KEMARIN ketika ada prosesi Suroan, saya lebih memilih pergi ke warung kopi di pinggiran desa. Daripada ikut berjubel dalam keramaian Suroan, rasanya lebih asyik minum kopi sembari “nglaras ati” (baca menghibur diri). Sendiri.

Saya juga ingin mendengarkan “suara rakyat” (penikmat kopi), yang siapa tahu bisa menginspirasi hidup ini jadi lebih berarti. Suara warung biasanya kerap mendatangkan “kidung semesta”. Ilham. Kiranya itulah saya suka nongkrong di warung kopi. Ngudut.

“Wadohh.., tempe gorenge kok tambah tuipis ngene. Tempene koyo triplek,” ucap Kangmin saat mencaplok tempe goreng di Warung Yutam setelah pulang dari kebun.

Mendengar ucapan Kangmin itu, seketika para pembeli tertawa. Ngakak. Jadilah warung kopi yang berada di pinggir desa itu terasa tambah semarak suasananya.

“Iyo je, saiki tempene Yutam tambah kuru. Sing lemu kimpluk-kimpluk bakule. Kakehan bathi dadi lemu awake,” ucap Kangman menimpali. Clometan pembeli itu bikin suasana warung tambah penuh gelak tawa. Segar.

Mendengar clometan yang bernada mengejek itu, Yutam langsung keluar dari dapurnya. Ia tak tersinggung, apalagi marah. Komplain pembeli kudu ditanggapi dengan santui. Yutam malah ikut tertawa ngiklik, sampai perut gendutnya terlihat berguncang-guncang bak cincau diciduk.

Lalu, dengan berkacak pinggang ia menjawab. “Nyinyir..nyiyir..nyinyir. Kamu semua bisanya nyinyir.. nyinyir,” ucap Yutam dengan mulut nyebek serta kepalanya digeleng-gelengkan seperti Presiden Prabowo Subianto meledek pengkritiknya.

“Saudara..saudara itu bisanya cuma nyinyir..nyinyir. Apa tidak tahu kalau sekarang harga-harga semua naik. Dolar sekarang naik tinggi. Tinggi sekali,” tambah Yutam dengan mulut nyebak-nyebek.

Melihat ulah Yutam menirukan gaya Pak Prabowo itu seluruh isi warung pun lebih ngakak lagi. Saking ngakaknya, sampai ada yang makan tempe dan minum kopi “keselak” (tersedak). Gelak tawa jadi terhenti sejenak.

“Loh..loh, kata Pak Prabroro dolar nggak berpengaruh dengan orang-orang desa seperti kita ini. Nggak berpengaruh naiknya dolar dengan harga tempe. Yang terkena dampak kenaikan dolar itu, mereka yang suka pergi keluar negeri,” kata Masjon mengutip statemen Pak Prabowo.

Bak tentara dengan berdiri tegap Yutam langsung menjawab, “Haaah.., nggak berpengaruh?? Nggak berpengaruh, ndasssmu!” jawab Yutam dengan melirihkan kata saat menyebut “ndasmu”. Melihat dan mendengar Yutam menirukan Pak Prabowo itu seluruh penikmat kopi termasuk saya tambah ngakak lagi. Hepi.

Penulis adalah wartawan senior tinggal di Tulungagung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *