Atas Dasar Apa Manusia Terlahir Ke Dunia ?

CB, GRESIK – Dikemas dalam artikel ringan karya jurnalistik, mengangkat tema seputar Tanda Hitam Pada Jidad, khususnya Jidad Hitam para penyelenggara pendidikan dilingkungan wilayah daerah kabupaten Gresik, yang kebetulan awak media Cahaya Baru juga ber-Jidad Hitam.

Mengapa engkau selalu menghalang-halangi awak media saat menjalankan tugas, bukankah hubungan komunikasi sudah lama terbangun ?, bertujuan turut mencerdaskan dalam membangun dunia.

Mengupas sedikit tentang setting dan/atau protokoler lembaga dalam menerima tamu, khususnya bagi awak media Cahaya Baru pribadi, berdasar pengalaman berberapa waktu lalu (akhir/2022) dilembaga pendidikan Menengah Lanjutan Pertama.

Tidak satu atau dua kali perlakuan kurang manusiawi dialami oleh awak media dari para petugas lembaga sekolah, perlakuan kurang manusiawi tersebut khususnya datang dari para petugas sekolah SMP Negeri 1 Benjeng kecamatan Benjeng kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Menuju langsung keruang scurity sekolah, tak nampak satupun petugas yang berada ditempat, seperti biasa yang awak media lakukan yaitu mondar mandir mencari tau dimana para petugas/scurity berada.

Bertemu, dan langsung menyampaikan bahwa Kepala Sekolah sedang ada tamu, Humas apakah dapat ditemui, tanya awak media, Humas juga sedang mengajar, jawab ketus salah satu scurity. Berarti semua petugas lembaga sekolah tidak ada yang dapat menemui awak media sebagai tamu yang sedang menjalankan tugas, tanya lanjut awak media ?.

Senyum sinis tampak terlihat, sinis atau nyinyir lahir dari persepsi yang hanya mampu mengkritisi tanpa dapat memberikan solusi. Mempersilahkan keruang scurity guna melakukan protokoler lembaga, yaitu Scener Pelindung.

Tak lama menunggu, scurity yang lainnya datang dan menyarankan awak media untuk Scener Pelindung. Scener Pelindung selain apakah sudah divaksin atau belumnya seseorang, sekaligus menjadi syarat protokoler lembaga sekolah untuk juga tidak memperkenankan/diterimanya tamu, terang scurity kepada awak media.

Peraturan dari siapa dan semenjak kapan, tanya awak media sambil ber-Scener, saya hanya menjalankan tugas dari atasan, jawab scurity. Atasan anda siapa, lanjut tanya awak media, ya atasan, jawab scurity, seraya melontarkan pertanyaan balik yang sekaligus menjawabnya, ya pemerintah yang menjadi atasan saya, bukankah kamu (awak media) juga ber-atasan pemerintah.

Persepsi dan pemahaman yang sudah terlanjur keliru dan telah menjadi sikap, hingga yang terlontar kata dari scurity kepada awak media yaitu hanya berucap dan secara berulang bahwa awak media telah nge-Gas, cukup, sanggah awak media menghentikan ucapannya, berarti intonasi awak media kurang berkenan baginya.

Spontanitas tersirat dalam benak awak media yaitu aktor pemakarsa program vaksinasi ialah WHO atau badan dunia yang bergerak dalam bidang kesehatan, ditambah konspirasi negera – negara besar yang tidak tergabung dalam PBB.

Perspektif person, bahwa yang telah menjadi atasan bagi awak media adalah Tuhan Yang Maha Esa, dengan berargumen Nurani menjadi landasan utama dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik.

Setiap warga negara mempunyai hak untuk tidak mau divaksin, sebagai bukti komitmen awak media untuk percaya terhadap diri sendiri khususnya, terlebih sebagai bangsa dan ummat yang ber-Ketuhanan.

Bagi awak media yang kebetulan ber-Jidad Hitam pula, selain sebagai pertanda seseorang kerap melakukan sujud, yang sekaligus menyadari arti dari pada sujud adalah agar senantiasa Tuhan Yang Maha Esa menutupi segala prilaku ‘kemaluan’ yang selalu melenakan dengan tabiat lenggang kangkung seakan tak punya dosa.

Bukankah sejarah manusia terlahir kedunia akibat prilaku yang kurang menjaga ‘kemaluan’ atau kurang senonoh (bersyariat) ?, Wallohu a’lam bishowab.
Bersambung.(Sub)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *