CB Blitar – Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar telah meluncurkan salah satu program unggulan inovasi strategis yaitu Blitar Serasi.
Salah satu inovator Blitar Serasi, Anis Nurani mengatakan, berawal sekitar tahun 2020 diruang stroke itu pasien merasa ada yang kurang semangat karena tingkat kecemasan yang tinggi dan tingkat ketergantungan juga tinggi yang disebabkan apa yang akan dikerjakan tidak bisa dilaksanakan. Sehingga lebih cemas apalagi usia muda.
“Dengan itu kita berpikir bagaimana agar pasien itu bisa lebih semangat. Terus mempunyai kemandirian atau tingkat ketergantungannya lebih meningkat kearah parsial karena banyak yang datang. Jadi program Blitar Serasi ini dikhususkan untuk pasien stroke,” ucapnya.
Kalau selama ini, kata Anis menggunakan secara farmatologi atau dengan terapi obat dan itu yang sudah berjalan. Kemudian kita kombinasi dengan yang non farmatologinya.
“Awalnya itu, kita berdiskusi dengan fisioterapi, ada yang melatih gerak, ada yang psikologis klinis itu bagian melatih emosinya atau memberikan bagaimana sih emosinya pasien sttoke ini bisa membaik. Bisa ada penyembuhan dari dalam dirinya sendiri,” ujarnya.
Salah satu Tim inovasi Blitar Serasi ini juga menjelaskan, ada tiga metode penyembuhan. Yang pertama yaitu dengan menggunakan terapi selfhealing ini ada gerakan yang dilakukan oleh keluarga yang menunggui atau keluarga dekat yang bisa diajarkan untuk melatih kepasiennya,” tutur Anis saat ditemui awak media.u.
“Yang kedua dengan terapi gerak dengan melihat fasenya, kalau diruangan kan ada fase akut, selama fase itu terapinya, terapi pasif. Tapi kalau dirumah dilanjutkan dengan secara bertahap. Ketiga dengan iringan musik, yaitu musik relaksasi otak, untuk lebih menenangkan,” jelasnya.
Lebih lanjut Anis mengatakan untuk lokasi pasien stroke dengan program Blitar Serasi ada di ruang stroke center, hanya saja ini belum bisa untuk semua tapi hanya pasien yang stabil dan pasien ysng bisa diajak untuk selfhealing serta komunikasi.
“Untuk SK pemberlakuan itu dimulai 5 September 2020. Alhamdulillah 2021 kita pernah mengikuti kompetisi inovasi pelayanan publik kategori istana dan kita mendapatkan juara 2. Meskipun belum semua pasien, kita berusaha untuk konsisten, maksudnya berapa jangkauannya,” tuturnya.
“Terkait pasien dengan metode Blitar Serasi, untuk tingkat kecemasan, dari yang sedang bisa menurun keringan. Memang ada skala kecemasan itu untuk kita evaluasi untuk pasien diberlakukan ini. Untuk latihan fungsi gerak, akan dievaluasi oleh fisioterapi tersendiri,” lanjut tim inovasi ini.
“Untuk itu diharapkan bisa berkelanjutan, bukan saja hanya dilakukan saat rawat inap tapi dirumah djkungan keluarga itu sangat penting. Untuk penyembuhan perlu waktu cukup lama. Maka dari itu dukungan keluarga sangat utama agar tidak sampai putus dijalan,” pungkas Anis Nurani salah satu tim Blitar Serasi ini.(pram)
