CB, TULUNGAGUNG – Puluhan siswa SMP Negeri 1 Boyolangu mengalami gejala keracunan usai menyantap hidangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Senin, 13 Oktober 2025. Menyikapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Tulungagung bergerak cepat menindaklanjuti kasus tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Anna Sapti Saripah, mengungkapkan bahwa hingga Senin sore tercatat sebanyak 58 siswa menjalani perawatan di Puskesmas Boyolangu, sementara 4 siswa lainnya dirujuk ke RSUD Campurdarat dr. Karneni.
“Sebagian besar siswa kini sudah dipulangkan dan dalam kondisi membaik,” ujar Anna usai menggelar rapat bersama Bupati Gatut Sunu dan sejumlah pemangku kepentingan, Senin sore (13/10/2025).
Meski begitu, lanjut Anna, masih terdapat 20 siswa yang dirawat di Puskesmas Boyolangu dan empat lainnya di RSUD Campurdarat, dengan kondisi stabil.
Sebagai langkah cepat, Dinas Kesehatan langsung mengambil sampel makanan dan usapan rektal (swab rectal) untuk keperluan pemeriksaan laboratorium.
Dan, sampel tersebut telah dikirim ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKL) Surabaya, Laboratorium RSUD dr. Iskak, serta Laboratorium Kesehatan Daerah Tulungagung.
“Kami juga melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui secara pasti sumber penyebabnya, apakah berasal dari bahan makanan, proses pengolahan, atau distribusi,” tegas Anna.
Dinkes juga telah menyiagakan tujuh puskesmas di wilayah sekitar, antara lain Puskesmas Boyolangu, Campurdarat, Besole, Besuki, Bandung, Pakel, dan Bangunjaya, guna mengantisipasi kemungkinan penambahan kasus. Selain itu, dua rumah sakit rujukan utama, RSUD dr. Iskak dan RSUD Campurdarat dr. Karneni, juga disiapkan.
Hingga saat ini, tim laboratorium masih meneliti penyebab pasti dari gangguan pencernaan massal tersebut. Pemerintah Kabupaten Tulungagung mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan proses penyelidikan kepada pihak berwenang.
“Kami pastikan seluruh korban ditangani secara optimal dan terus memantau hasil laboratorium untuk menentukan langkah selanjutnya,” tambah Anna.
Sementara itu, insiden ini menjadi peringatan serius mengenai pentingnya pengawasan terhadap keamanan pangan di lingkungan sekolah.
Terkait kejadian tersebut, Pemkab Tulungagung menyatakan komitmennya untuk memperketat pengawasan mutu dalam pelaksanaan program makanan bergizi agar kejadian serupa tidak terulang.(rul)
